• Senin, 26 Desember 2011

    Sisil, Lia, Shanty dan Dini yang kujumpai

    Hawa panas kembali menerpa wajahku saat aku membuka pintu taxi.
    Rasa yang sama ketika turun dari pesawat tadi. Surabaya memang panas, tapi tidak seperti biasanya seperti ini. Langsung ke lobby sambil berlari kecil aku ingin menikmati AC hotel, tempatku menginap melewatkan malam panjang nanti sendirian, sebelum bertolak ke Malang esok hari.
    Di front desk lobby terlihat dua gadis muda cantik front office yang menyambut kedatanganku, yang kutimpali dengan senyum sambil menyebutkan nama dan kode reserfasi yang sudah dipesan. Saat memasukan dompet kembali setelah mengeluarkan kartu-kartu yang diminta, dari arah belakang kanan terdengar ada yang menyapa menyebut namaku.

    - Ya ? - jawabku bertanya.
    - Masih ingat ? Aku Shanty. - sambungnya.

    Kuperhatikan pegawai senior hotel yang berbaju batik ketat, berbeda dengan dua gadis muda di meja reservasi tadi, sosok di depanku ini lebih pantas disebut wanita. Rambut sebahu, bibir senyum dan kulit lengan dan wajah sedikit coklat ini tak pernah terlintas dalam benakku selama ini. Matanya berbinar terasa nuansa riang ada di dalamnya. Sambil mengangkat alis, dia bertanya

    - Lupa ?
    - Pernah main di Universitas Petra kan ? - lanjutnya
    - Aku dulu pernah tinggal di Siwalan Kerto. Hihihi. Sudah lupa ? - tanyanya lagi.

    Dari gigi gingsulnya, aku langsung teringat dengan mahasiswi yang pernah diperkenalkan teman sewaktu singgah di kota ini dulu.

    - Oh iya, Maafkan aku. sudah lama kita tak ketemu, engkau semakin cantik begini, mana mungkin aku ingat. Apa kabar ?
    - Baik, Mas bagaimana kabarnya ?
    - Sama, baik2 saja, sekarang sedang tugas kemari. Ah, Enggak nyangka ketemu di sini. Engkau kerja di sini rupanya. - tanyaku
    - Yup. Accounting dan Pembukuan di sini.
    - Sudah dapat kunci kamarnya ? Mari kutemani ke sana. Mas Yoga, tolong tasnya dibantu. - pintanya kepada anak muda di sampingku.

    Sambil berbincang ringan kami menyusuri lorong hotel ke arah pintu lift yang sdh terrbuka.
    Lalu keluar lift yang terasa sejuk dengan hadirnya wanita disampingku.

    - Setelah ini kita makan siang sama-sama yuk ? - ajakku memasuki kamar.
    - Ow, aku sudah musti balik ruangku, sudah menumpuk tugas bulan ini. - tolaknya.
    - Bagaimana kalo makan malam ?
    - Okay, kutunggu telponmu ya ? - jawabnya dan menyebutkan sederet nomor.
    - Selamat makan siang dan istirahat - salamnya sambil keluar.
    - Ya ya, sampai nanti - jawabku sambil menyodorkan lembaran uang ke pemuda yang membantuku membawa tas.

    Sambil mengganti baju kutekan tombol ponsel menyimpan nomor telphone Shanty. Nomor cantik, mudah diingat siapapun.

    Memasuki ruang makan di lantai bawah hotel, mulai terdengar musik slow rock yang semakin jelas melantunkan tembang lama Scorpion.
    Sambil menarik kursi di meja kosong kuperhatikan dua gadis cantik dengan seragam maskapai penerbangan yang membawaku ke kota ini tadi. Nampak benar mereka memang gadis yang tadi bersama satu pesawat tadi. Aku tidak mungkin lupa dengan yang seorang gadis tinggi dengan rambut sangat pendek memperlihatkan lehernya yang putih mulus itu.

    - Maaf, mbak tadi yang satu pesawat dengan saya tadi ya ? kalo enggak salah yang duduk di lorong belakang ?

    Kumulai percakapan setelah melakukan pemesanan makanan buah dan minuman ringan.

    - Eh, iya pak, saya juga masih ingat bapak, duduk di area belakang tadi.
    - Jangan panggil bapak, saya nanti merasa enggak nyaman, merasa terlalu tua. - kulanjutkan sambil berdiri.

    Kudekati mereka dan kusalami bergantian sambil menyebutkan namaku.

    - Mbak lia dan Mbak Sisil sedang off hari ini ?
    - Ah. Lia, mas. Jangan pakai Mbak, saya bukan orang jawa, dan saya merasa enggak nyaman, merasa terlalu tua ... Dan dia Sisil. - sambil menunjuk gadis jelita yang tinggi itu.
    - Kami memang sedang cuti sebenarnya, tapi kebetulan kantor juga menawari flight ke sini sekalian bonus jika mau menjadi petugas untuk flight yang tadi. Mas tau sendiri kan full occupied beberapa hari ini.

    Perbincangan ringan terasa menyenangkan ditemani dua gadis cantik ini ditemani live music romantis.

    Tak terasa beberapa lagu sudah lewat, ketika Sisil tiba-tiba memotong obrolan Lia yang bercerita sedang menunggu teman sekolahnya di hotel ini.

    - Mas, aku pamit dulu ya, tanganku terasa penat mungkin sekarang memar terantuk kursi saat membantu menurunkan tas penumpang tadi.
    - Ah, itu Dini juga sudah datang. - ujar Lia

    Sambil berdiri menyalaminya dan menyebutkan namaku, kulihat gadis yg baru datang di depanku ini juga tak kalah cantik. Ia memiliki warna mata yang mendekati coklat muda dan kulit kuning, serta rambutnya hitam.

    - Maaf deh Lia, Surabaya sekarang macetnya mo niru Jakarta, sorry agak telat yo. - ujarnya setelah menyebutkan namanya padaku.
    - Kita jadi ke rumahku kan ?
    - Aku gak ikut Din, mo berendam dulu, agak penat badan ni. - Sisil kembali pamit mohon diri.

    Bertiga lagi kami sekarang ngobrol tentang kondisi kota dan rumah Dini, sambil melewatkan beberapa lagu.

    - Baiklah mas, kami pamit duluan ya, saya ingin segera ke rumah Dini, ingin main2 dengan putrinya yang masih lucu.
    - Lia enggak ganti baju dulu, pa boleh pake seragam maen2 ke luar ?
    - Ah, kan ke rumahmu, kan gak ke mana2.
    - Yuk mas, saya duluan ya, selamat menikmati Surabaya, semoga mendapatkan moment yang asyik di sini.
    - Yeah, you too. And nice and glad to meet you two here. Sampai ketemu lagi ya. - salam akhirku pada mereka.

    Dari dalam lift ketika hendak kembali ke kamar, sambil membawa koran lokal hari ini, saat lift berhenti dan pintunya terbuka di lantai 2, muncul Sisil di seberang pintu hendak masuk lift.

    - Ah, ketemu lagi. Kukira sudah berendam.
    - Belum mas, sekarang baru mau ke kamar. Ada form yang musti kutulis di kantor akuntan hotel.

    Ah, lantai dua lokasi ruang si Shanty. mungkin sebaiknya kapan2 kusempatkan ke sana nanti.
    Sisil ini ternyata tinggi juga, memakai sandal hotel tipis tapi dia tingginya hampir sama dengan dahiku. Karene aku sekitar 175cm lebih, mungkin dia 170cm. Rambutnya pendek, leher kuningnya indah dipandang. Kutatap pintu lift yang memantulkan profilnya, terbentuk juga panggul dan pinggul yang indah bersama dada yang membusung indah tertutup seragamnya.

    - Kalau mengurut tangan kananmu Sil, sebaiknya searah dengan jalan darahnya ... kalo nadi tuk ke jantung, mijit ke arah jantung, kalo dari jantung, mijitnya juga menjauhi jantung. - kumulai percakapan dengan obrolan tentang tangannya.
    - Iya mas, tadi juga nanya mbak akuntansi barangkali ada yang bisa memijit di sini, tapi aku diminta menunggu sore saja, ada kawannya yang bisa mijit, tapi bersedia kalau diluar jam kantor.
    - Ah, memijit lengan memang tidak mudah, ada nadi utama yang bisa langsung ke jantung arahnya. Musti hati2 dan tidak semua tahu itu.
    - Mas bisa ?
    - Saya pernah diajarkan untuk mengurut arah nadi di tubuh saat mempelajari kempo dan judo. Ada arah2 yang bagus dan ada arah2 yang berlawanan. musti hati2. itu kan untuk repair tubuh kita setelah latihan, kita saling memijit kadang2.
    - Kalau mas tidak keberatan terganggu istirahatnya, bisa dong saya dibantu.

    Wow ... itu situasi yang tak pernah terpikirkan dari tadi. menyentuh lengan jenjang wanita ini ? sedari tadi tak pernah terpikirkan kecuali bersalaman tadi.

    - Baik, saya bantu memperlancar darah saja. di mana kita melakukan ? - tanyaku saat pintu lift terbuka di lantai kamarku.
    - Kamarku di lantai atas lagi mas.
    - Okay kita ke sana. - sambil melepaskan tanganku yang menahan pintu lift.

    Sambil membuka pintu kamar mandi di kamarnya saat masuk, Sisil mempersilahkanku masuk tuk menunggu di dipan atau kursi yang ada di dalam.
    Dengan cepat kuberpikir akal apa yang bisa diterapkan di sini nanti saat berduaan dengannya. Aku ingin bercinta dengannya.
    Dengan mengenakan pakaian mandi hotel Sisil keluar sambil tersenyum. Ah! cantik benar ...

    Sembari bercerita sekilas tentang tangan dan sesekali kusebutkan kecantikan yang terlintas di mataku, agaknya dia mulai percaya saat mulai kusentuh jari kanannya dan sikunya dengan kedua tanganku. Kurubah posisi dudukku mendekat dan duduk di sebelah kanannya di kasur hotel yang empuk itu, kutekan lembut lengan dalam bagian atas sikunya dan mengurutnya ke atas,

    - Memang terlihat sedikit merah, sakitnya di dalam, atau di luar ? di otot, atau kulitnya ?
    - Di dalam sih mas, yang luar sudah mendingan.

    Tangan kananku memegang jemarinya seolah bersalaman dan tanganku yang kiri menekan lembut ke atas terus menerus ... mencari tonjolan panjang yang sebenarnya nadi besar di lengannya. Kuluruskan tangannya dan tangan kananku mulai bergerak ke arah siku, membantu mencari nadi2 besar di tangannya. Dan kemudian ku urut lembut perlahan ke arah jantung dan juga berlawan secara teratur sesuai arah nadinya ...

    - Enak mas, jadi rileks rasanya ...

    Matanya terpejam menyembunyikan pupil hitamnya yang indah, memberiku kesempatan memperhatikan kelopak mata, bulu mata, hidung, bibir dan bulu halus di sekitarnya ... sudah hilang warna perona bibirnya. Sehingga kulihat warna asli bibirnya yang merah muda segar dan dagunya yang indah.

    - Untuk mengimbangi alirannya, tangan kirinya juga lho Sil, tapi nanti ... nikmati dahulu, kalo memang tidak suka engkau bisa menghentikannya sekarang.

    - Ehm ... Ah, ni enak kok mas

    Aliran darah yang mulai mengalir deras di otakku sedikit mengganggu konsentrasi, tapi untung dengan mengatur nafas bisa menahan gejolak dan deguban jantung yang timbul.
    Sambil sesekali memijit sampai ke bahu kanan hingga leher, kutekan lembut kulitnya yang indah itu,

    - Sebelah kirinya sekarang ya.. -

    Sambil menyodorkan tangan dan bahu kirinya ia sekarang berhadapan denganku, yang kini bisa mendengar tarikan nafasnya yang dalam. terlihat sedikit belahan bukit dibalik bajunya menyembul menyapaku.

    Berganti tangan kirinya kusalami dengan tangan kiriku, semantara tangan kananku mulai mengangkat lengannya menyibakkan lengan bajunya sambil memijit mengurut perlahan. Nafas teratur yang menghembus menerpa wajahku harus segera kurubah ke irama yang kuinginkan. Dengan bersamaan kusentil kedua sikunya yang dapat mengakibatkan rasa seperti tersetrum itu secara berirama bergantian dengan pijatan lembut di lengannya, bahunya, ketiaknya hingga sedikit di bawah bahu bagian depan.

    Setelah beberapa menit

    - Hm .. hmm .. - dengungnya.

    Kelopak matanya terbuka memperlihatkan matanya yang sekarang sayu itu tersenyum, kemudian wajahnya mendongak sedikit ke atas.

    - Erhm ... - desahnya

    Sisil tiba-tiba mengangkat kedua tangannya sehingga tanganku terlepas. Ia merangkul kepalaku sambil berbisik mendesah di telinga kiriku

    - Make love yuuk ... hmmm.

    Sambil mengecup bawah telinga kirinya kubisikan lembut

    - Sisil nikmati saja ya. kalo gak suka kasih tau ya ...

    Kuajak ia berdiri bersama, tanganku mulai melepaskan sabuk pakaian mandinya dan menyingkapnya, memperlihatkan tubuh yang masih terbalut pakaian dalam tanktop tipis halus itu. Kupeluk dan kuteruskan dengan meremas kedua pantatnya sambil mengulum bibirnya dan mempermainkan giginya dengan lidahku, kemudian langit2 mulutnya kutekan ke atas degan lidahku.
    Sambil bergerak cepat, kuloloskan celana dan kemejaku hingga tinggal celana dalamku yang sengaja kubiarkan tuk menyimpan senjata pusakaku.
    Masih dalam posisi berdiri kuangkat tangannya dan kuputar badannya membelakangiku. Kugenggam tangannya membantu melepaskan pakaian mandinya. Kepalanya yang terkulai ke kanan kusambut dengan sedotan ringan di bawah telinganya hingga lehernya, sembari meremas lembut dadanya yang terlihat kencang dari atas maupun dari cermin di depanku.

    - Err ... mas ... sss - desisnya.

    Beberapa saat kemudian kuturunkan tangan kiriku membiarkan tangan kananku meremas kedua dadanya bergantian. Tangan kiriku menuju pusar dan mengusap lembut sambil menyelipkannya ke dalam baju dalamnya. Dengan cepat kutarik ke bawah baju daster halus yang menutupi kulit halusnya yang putih, disusul dengan usapan lembut di depan pusar, kemudian sesekali kuselipkan ke dalam celana dalamnya, merasakan bulu halusnya tersentuh kulit jemariku. Dengan lembut kutekan perlahan.

    - Mmm .. mas ... oooh - nafas Sisil mulai memburu menikmati usapan2ku.

    Dengan sediki perlahan ke bawah, jemari kiriku telah mulai menyentuh ujung bawah badannya, yang diiringi dengan condongan panggulnya ke depan dan sedikit melebarkan pangkal pahanya, memberikan kesempatan tanganku semakin bermain di area yang diinginkannya. Tangannya diangkat ke atas merangkul ke balakang memeluk kepalaku sambil berdesis

    - sss please ... sss do it soon ...

    Kedua tanganku yang memeluknya dari belakang, sekarang kebawah semua masuk ke dalam selipan celana dalam dan memijit pangkal paha, memijit lempitan bawah tubuhnya dengan jari tengah sedikit bermain mengusap lembaran dalam kulit kemaluannya, sembari ibu jariku mngusap lembut ujung atasnya, menekan tonjolan dagingnya yang menyebabkan Sisil mgengerang terus

    - Eeerrrghhh ... mmm ... mmm .. sss .. ssss .. pleaseee .. sss
    - Ahhh ... hhh ... mmm .. hh

    Dengan cepat kulepaskan bra nya, kuputar tubuhnya menghadapku, dan setelah membungkuk sebentar meloloskan celana delamnya ke bawah, kulihat mulutnya, seperti di cermin tadi, terbuka melepaskan hawa nafasnya yang segera kusambar dengan mulut dan kuhisap sambil kulumat dalam2.
    Sambil merangkul tubuh dan meremas kedua pantatnya, Sisil kudorong mendekati meja dan segera sedikit kuangkat tubuhnya, kududukan di sana serta kubuka pangkal pahanya.
    Kutempelkan pusakaku yang masih tersimpan aman di celana. kugesekkan dan menekan ke depan ke arah miliknya sementara kedua tanganku menekan tubuhnya ke arahku, ku gooyang naik turun searah dengan garis lempitan miliknya

    - HAHHH ... OOOHHH ... MAASSS ...sss

    Irama goyanganku yang teratur, hisapan mulutku di mulutnya, lehernya, pangkal lehernya, remasan lembut tanganku di tubuhnya mulai dari depan dada, pusar, pangkal paha, kedua kakinya yang kuangkat pula ke meja hingga semakin luas area gesekan pusakaku yang masih tersimpan aman, malah membuat Sisil ikut bergoyang cepat2 dan mendekap kepalaku erat2 ke lehernya.
    Selang beberapa lama kemudian

    - hhaaaAAHH ... MASSS .... I'M COMIIIINGGGG ... SOONNN

    segera kedekap erat tubuhnya, kucondongkan kedepan tubuhku mendekap erat dan kutingkatkan kecepatan gerakanku naik turun menggesekkan pusakaku ke miliknya dan kugigit sambil kuhisap lehernya yang indah ...

    - AAAAAAARGGGHHH ...

    Badan Sisil bergunjang, dekapannya kekepalaku tambah erat, kakiknya sekarang bergetar dari matakaki, lutut, dan yang terasa olehku, pangkal pahanya.
    Sekian detik kubuarkan Sisil mencapai situasi yang ingin diraihnya dari tadi. Terasa lemas tubuhnya masih merangkulku saat kuajak turun dan kurebahkan perlahan ke dipan.
    Mulutnya terbuka mengatur nafas, memandangku sayu dengan kelopak matanya, tapi berbinar cahaya di pupilnya menyiratkan kepuasan,

    - Bagaimana kau bisa melakukannya - katanya terengah

    Sambil kucium mata, dahi, hidungnya kudesiskan

    - That's just the begininning ... Sil ...

    Beberapa saat kemudian Sisil bergulir ke samping, menindihku

    - It's my time mas ...

    Kubiarkan ia turun mengecup putingku, menghisapnya sesaat kemudian kuangkat dagunya kemudian kutarik ketiaknya mendekatkan wajahnya yang cantik

    - Aku ingin memandang wajah cantikmu, kuingin terus menciummu, tanganmu sajalah yang beraksi. Aku tak ingin melupakan paras cantikmu Sil.

    Tersenyum senang ia mengulum bibirku dan menurunkan tangan kanannya mengelus pusakaku yang mulai agak lemas.
    Kemudian tangannya dimasukkan ke dalam celana dalamku, menyentuh ujung pusaka yang tumpul itu, menggengamnya dan mengurutkan naik turun perlahan. Melihat wajah jelitanya, dan buah dadanya yang sekarang menggantung karena mulai mengangkat badannya dan membungkuk mencium ciumku, aku mulai ada tekanan darah yang meningkat seirama dengan tangan kanannya yang sedang beraksi.
    Kudorong perlahan bahunya memberiku kesempatan duduk, ia melepaskan pengaman pusakaku, menariknya ke bawah melepaskannya. Kudorong badanku ke belakang, duduk bersandar di dipan dan memperhatikan wajahnya yang jelita sekali lagi, sebelum ia menunduk menciumi putingku, yang kubiarkan turun, ke arah pusakaku yang mulai tinggi tensi nya.

    - Hmmm - gumamku saat bibirnya mulai mengulum naik turun di situ.

    Tangan kanannya yang mengurut perlahan naik turun, lalu membuatku seperti tersengat sesuatu saat giginya ikut main di sekeliling kepala pusakaku, sembari lidahnya di dalam mulutnya memainkan ujungnya yang terkulum di mulutnya.
    Ya ampun, belum pernah aku merasakan sensasi seperti ini. Ia tidak melakukan hisapan, tapi terus melakukan usapan dengan lidahnya di dalam membuatku terpejam merasakannya. Sudah merasa yang paling tinggi tekanan darah di pusakaku ketika ia menghentikan kegiatannya sambil tersenyum anggun mendekatkan wajahnya ke wajahku.
    Tangan kirinya mangambil bantal di sebelahku dan memintaku bersandar ke situ. Kini terasa dudukku agak condong dengan posisi bantal dipunggung hingga pangkal panggulku.
    Sisil kembali mencumbuku, lalu mengangkat paha kanannya menduduki perutku, tangan kanannya mulai mengelus lagi pusakaku membimbing ke arah tujuan dibarengi mengangkat panggul. kurasakan ujung pusakaku menyentuh sesuatu yang lembut, yang berbeda dengan milikku yang keras.
    Perlahan di dorong tubuhnya kebelakang, menyebabkan pusakaku kini terjepit sesuatu yang lembut, lunak dan basah. Kutahu ini saat yang kuinginkan dan kubiarkan Sisil saja yang melakukan tugasnya.Ah, nikmat benar miliknya, menggenggam keras kepala pusakaku, menjepitnya dan perlahan tambah dalam...
    Panggul, pinggul, pantanya mulai naik turun perlahan sambil merangkul kepalaku dengan kedua tangannya, mencumbui seluruh wajahku dengan bibirnya.
    Kuangkat tanganku mulai ikut beraksi.
    Kuraih kedua bukit putih indah sedikit padat itu, meremas lembut ke arah ujung, di mana saat di ujung kuusap dan kupilin dengan jemariku, kemudian meremasnya lagi dengan lembut dari pangkalnya hingga keujung ...
    Nikmat yang kunikmati dirasakan pula oleh Sisil yang mulai cepat mengangkat dan menurunkan tubuhnya disertai nafas yang mulai memburu ...
    Beberapa saat kemudian

    - Hhmm .. Oh....

    Rintihnya karena kugigit perlahan dan kuhisap lehernya saat ia mulai menyodorkan lehernya ke mulutku. Mungkin ini area yang pas miliknya. Maka kuhisap dalam-dalam. kulepaskan nafasku banyak2 hingga dapat menghisap pangkal lehernya dalam-dalam
    serasa tak berkahir ...

    - Aaahh .... hhh ..... ssss ...yess sss yaa .. aahh -

    Semakin cepat ia menggoyangkan badannya di atasku, sambil terus kuhisap dalam-dalam lehernya, kuremas dadanya ...

    - UUhgghh ...

    Sisil mendorong tubuhku, menarik tubuhnya kebelakang, kini ia duduk tegak dan melakukan gerakan maju mundur. Semakin cepat gerakan maju mundurnya, hingga kumerasakan tekanan, himpitan di pusakaku yang amat sangat tegang.

    - AAAgh ... AAAAGHH ... YEESSS ... COME AGAIN ...

    Teriaknya merintih.
    Sambil mempercepat gerakannya, yang kubantu sekarang dengan mendorong paha dan pangkal pahanya maju mundur melumat bawah pusarku, Sisil mendesah

    - SOON ... ssss ... please .... come ...

    Kali ini aku aku tidak bersandar, tapi duduk sambil meremas kedua pantatnya, mendorongnya maju mundur, dan kuhisap lagi tubuhnya. Kali ini dada kanannya. Kuhisap hisap dalam-dalam lagi seperti di lehernya tadi ...
    Terus .. terus ... kupercepat gerakanku, keperdalam dan kuperlama hisapanku ...

    - YAAAAAARRGGGHHH .... MAAASSSSS SSSSSSSSSS - desis dan desahnya panjaaang, melepaskansemua nafasnya.

    Tangannya yang tadi meremas rambutku, kini malah mendekapkan kepalaku dengan amat sangat erat ke dalam buah dadanya. Perutnya bergetar, panggulnya, kakinya yang membuka dan lututnya bertekuk di samping ikut bergetar kelojotan ...
    Kubiarkan lagi ia bersandar di tubuhku ... leherku di kecupnya berulang kali ...

    Kuremas rambutnya kebelakang kukecup dan kukulum bibirnya, perlahan aku bergeser. Kucabut pusakaku. Beringsut perlahan mengganti posisi.
    Kali ini kubiarkan ia telungkup menindih bantal sandaranku tadi, di bagian perutnya. Menghadapinya dari belakang secara perlahan kutindih dan ku usap kepalanya dan kucium lehernya. Kurasakan Sisil sedang mengatur nafas sekarang. Kemudian kuturunkan sedikit tubuhku sehingga terasa pantatnya berhadapan dengan pusakaku.

    - hmm ... - gumamnya.

    Kugesek-gesekan maju mundur di situ, Sisil diam saja, masih menikmati pencapaiannya tadi.
    Dengan kedua tanganku kubuka belahan pahanya, kumasukan kepala pusakaku dengan mudah di lubang basah tersebut. Terasa hangat vaginanya berdenyut-denyut.

    - Heh! - pekiknya

    Kumainkan dengan sedikit mendongakkan pusakaku, dengan arah maju mundur kumasukan secara serong kiri, kemudian kanan ....

    - aww, masss

    Kubenamkan sampai habis batangnya. kucabut setengah dan masuk lagi, kali ini kupercepat temponya.

    - awwww ... www aww - Sisil mengeluarkan suara yang merdu ditelingaku rasanya.

    Kupercepat iramaku, tanganku mulai mengusap punggungnya, dari atas ke bawah. Kutekan dari samping menuju ke pantat, kutekan, kupijit, dan kubuka belahan pantanya. Kulihat lubang lain warna merah muda di atas lubang yang sedang kumasuki pusakaku.
    Kukeluarkan air ludahku membasahi jari kananku. Kukulum jari kiriku, saat jari kananku mulai ikut ikut masuk kelubang tempat pusakaku beraksi. jari telunjuk dan tengah ikut-ikut melebarkan lubang sementara jari kanan yang lain menggosok pusakaku mengereingkan lendir basah yang terbawa keluar.
    Telunjuk kiriku mulai mengusap lubang merah muda kecil itu dengan cairan ludahku yang menempel di jari kiri.
    Sisil merintih mengerang, mungkin terasa senang ...
    kuusap jari kiriku pada lubang baru itu, kumasukan perlahan, mili demi mili kumasukan.
    Sambil mengoyak lubang bawahnya, aku juga ingin mengoyak lubang atas yang lebih kecil ini. Bentuknya bagus, bersih terawat, ada rambut2 halus di sekelilingnya.

    - HHH ... Hahh ... haa..hh - nafas Sisil terdengar jelas. mendesah nikmat.

    Nafasku tetap kuatur dengan sesekali menahannya sedikit di bawah pusar.

    Jari telunjuk kiri sudah terbenam dua ruasnya. kutarik dan kusertakan jari tengah kali ini. sebelum kumasukkan kuperhatikan mulai agak lebar lubang baru ini. ada bagian dinding dalamnya yang sedikit terlihat keluar.
    Perlahan kedua jari kumasukan. Mili demi mili, sedikit demi sedikit. kuperhatikan Sisil kedua tangannya meremas sperai disebelah kepalanya, kedua sikunya terangkat. Entahlah, merasakan nikmat atau tidak Sisil sekarang. Yang kudengar nafasnya terengah, mendesah, sesekali menjerit perlahan saat dua jari kiriku kumasukan, sementara dua dua jari kanan ikut masuk bersama pusakaku. kuselipkan pergelangan tanganku ke bawah pusakaku, sehingga dua jari kananku ikut masuk sembari ibu jari kananku memainkan kelentitnya.

    - AAAhhwww ... aaa .... hhh - erangan Sisil kali ini beda, membuatku bersemangat

    Dua jari kiri kini sudah masuk semua hingga ke pangkalnya. terasa sedikit basah di ujung jari2ku itu. kumainkan di dalam, kukoyak dinding-dindingnya, kutarik keluar masuk.
    Remasan jari Sisil semakin kencang, erangannya semakin kencang, tapi tidak kudengar ia menolak.
    Sudah, aku ingin menyudahinya, kulepas bebas irama nafasku, kupercepat semua gerakanku ...

    - AAAAHHHHH ... AGAINNN ... COME AGAINNN ..... - teriaknya liar.
    - AARRGHHHH ...AAAAHHH, DON'T STOP!! .... AAAARRGHH ...
    - Aku juga mau keluar sayaaang ... - eranganku mempercepat irama getaran tubuhnya.
    - I'M COMMING NOW ... AAAAAARRRRGHHHHH ..... sssshhh - jeritnya.

    kulihat kepalanya bergetar kebelakang, tangannya menarik seprai kearahnya dengan cepat, dan getaran panggul dan pahanya tertarik ke depan, bergoyang lututnya, menegang semua ototnya, yang membantu pula pencapaian puncakku.
    Kulepaskan cairan putih itu di dalam lubang yang basah dan hangat, sambil memeluknya dari belakang.

    Sudah beberapa saat berlalu kami masih pada posisi yang sama saat pencapaian bersama tadi.
    Kucabut pusakaku yang sudah tidur lagi itu, kurebahkan badanku di sebelahnya sambil menatap paras jelita Sisil yang terpejam seolah tertidur pulas, terlihat dari nafasnya yang teratur... Kubisikan

    - You are so beautifulll ....

    Tersenyum ia membuka sedikit matanya

    - Terima kasih mas ... tangan mas hebat ... aku lelah ... ingin tidur
    - Jangan lupa tinggalkan kartu namamu di tasku ya sayang ... - bisiknya


    -----

    Maghrib aku menutup pintu, masuk ke kamarku, setelah dari lantai atas di kamar Sisil tadi.

    Mandi air hangat sangat kubutuhkan saat ini, sambil melepas semua pakaianku.

    Saat berendam, sayup2 terdengar pintu kamar diketok orang. Kukecilkan suara air keran untuk mendengar lebih jelas.
    Ah, sudah Isya', siapa tamuku malam ini ya ?

    Kuintip dari lubang pintu, pemuda yang mengangkat tasku tadi terlihat jelas mengacungkan sehelai kertas ke atas.
    - Room boy

    Kubukakan pintu sedikit

    - Ada undangan makan malam dari Ibu Shanty. Di tunggu di ruang makan jam 8.30 pak.
    - Oh okay, thank you.

    Kuteruskan mandiku sebentar, sambil mengingat Shanty, kawan lama yang dulu pernah kubuat kecewa.

    Memasuki ruang makan dengan setelan santai jeans dan kaos kerah, kudapati santi berdiri menghadap bar sambil memegang telephone dekat kasir. Tersenyum menghadap cermin kepadaku ia membalikkan badan melambai dan mengisyaratkanku tuk mencari meja.
    Sambil memantau sekeliling dan memperhatikan alat2 musik di atas panggung, aku mencari meja paling jauh, dekat dinding. ada dua meja kosong di sana, sementara yang satu sedang ditempati sepasang pria wanita dan remaja pria. Ah, keluarga kecil, pikirku.

    Kuminta Coke setelah didatangi pramuria wanita yang memintaku menunggu sebentar, karena Shanty sedang berbicara.

    Agak lama juga Shanty menelpon, yang kemudian menghampiri meja menyalamiku. Sambil berdiri kutanya lagi kabarnya sore ini.

    - Rencananya, suamiku kuajak makan malam bersama. Kita bertiga keluar dan mencari makan di luar.
    - Oh, okay. - jawabku tak jadi duduk lagi.
    - Huh. Tapi batal - dengusnya mendahuluiku duduk.
    - Lho ? Knapa ? Telat dikit kan gak apa, toh aku malem ini masih di sini.
    - Bukan, apa-apa, karena rencananya mendadak, dia tidak bisa membatalkan jadwal keberangkatannya malam ini ke Situbondo melatih selam anak buahnya besok pagi.
    - Oh, pelatih selam ?
    - Bukan cuma selam, selancar juga.
    - Wow kan asyik tuh.
    - Ah udah ah, pesan makan di sini aja yuk. - sambil memberikan kode pada rekan hotelnya.

    Saat makan kami berbincang, dan dia selalu mengalihkan pembicaraan yang berhubungan dengan suaminya. Hanya obrolan ringan saja yang terjadi untuk mengetahui kerjaan masing2.

    Saat para pemain band live music mulai datang, kami tengah menikmati minuman ringan hidangan penutup. Ada penyanyi sedikit sexy yang mulai melantunkan lagu2 romantis, saat Shanty menuju cashier dan bercakap sebentar dengan petugasnya. Tak berapa lama ia datang sambil membawa minuman yang bisa kubilang sedikit memabukkan jika dikonsumsi. Tapi dengan enteng dia meminumnya dan kami bercerita lagi, ke arah masa lalu topiknya.

    - Bagaimana istrimu ?
    - Belum, masih lajang, ogah nikah ah.
    - Lho - sedikit terkejut kemudian bertanya
    - Mbak itu mana ?

    Kusebutkan sebuah nama

    - Ya .. kan dulu saat kau kutelpon, kau sedang berpasangan dengannya.
    - Iya, dulu.

    Kuingat saat aku berulang tahun, mendapat telephone pagi2 sekali. sambil mengantuk kujawab terimakasih, saat penelepon seberang mengucapkan selamat kepadaku. Dia ingin surprise, mengucapkan selamat ultah yang paling pagi kepadaku. Dia ingin menjadi yang special buatku, dimulai hari itu. Dasar sedang mengantuk ku jawab terima kasih banyak2.
    - Kan semalaman sudah bicara lewat telephone, untuk apa mengucapkan selamat sekali lagi. - kataku
    Kemudian kuceritakan rencanaku menjemputnya di airport kalau jadi datang ke Surabaya.

    - Lho Mas. Ini Shanty!!
    - Hah ?! - Mulai pulih kesadaranku setelah kusadari kesalahanku.
    - Eh, mas sudah punya pacar ? Siapa tadi nama yang disebutkan ?
    - Err ya. itu pacarku. kupikir dia tadi yang telpone. - jawabku berusaha memulihkan kesadaran.
    - Ya sudah kala begitu. Ini Shanty mo mengucapin selamat ultang tahun. Bukan yang pertama, tapi setidaknya aku juga care mas.
    Kemudian dilanjutkan salam perpisahan sebelum menutup telephone.

    Ah, setelah menutup telepon dan sadarku pulih ini, aku bisa merasakan kekecewaan Shanty.

    Tapi itu masa lalu.

    - Aku sudah tidak bersamanya lagi sekarang - kuterangkan statusku saat ini.
    - Jadi, available ? - ia mengernyitkan dahinya.
    - Apa maksudmu, kau kan sudah berkeluarga. - godaku
    - Not tonight. - desahnya menyandarkan badan ke kursi.
    - Ah, wish you are available mas - bisiknya

    Sesaat kemudian kucondongkan badan ke arahnya. Bertanya

    - Ke kamarku ?

    Ia menatap mataku beberapa detik, kemudian berdiri ke cashier berbicara kembali dengan petugasnya.
    Aku menunggu apa yang terjadi sambil melirikkan mata ke penyanyi band yang tersenyum kecil ke arahku, mengetahui aku termasuk tamu dari pegawai senior di sini. Kusambut senyumnya dengan anggukan pelan.
    Shanty telah dihadapanku ketika aku memperhatikannya.

    - Yuk. - ajaknya.
    - Bill is on the house. - sambungnya.

    Dia berjalan duluan ke arah lift sambil membawa segelas minuman.
    Kususul langkahnya sembari memperhatikannya dari belakang. Shanty sudah menikah, tapi masih memiliki tubuh yang bagus, apalagi belum memiliki keturunan. Sudah terbayang apa yang bakal terjadi di kamar nanti. Tapi masa bodoh dengan semua. Aku tak ingin sendirian malam ini.

    Saat kututup pintu kamarku dan menguncinya, Shanty langsung menghampiriku setelah meletakan gelas di meja.
    Meraih kedua tanganku, tersirat menginginkanku memeluknya. Kuturuti keinginannya, kepeluk erat sambil kukecup keningnya.

    - Jadilah suamiku malem ni mas. please ..

    Kulirik laptopku yang masih menyala di meja, mendownload file musik lewat bit torrent, masih menyala. Kugiring Shanty kesana sambil memagut matanya yang terpejam, kuraih laptopku, kuaktifkan windows media player dan kupilih playlist classic love song. Terdengar intro lagu Phill Collins yang lembut sembari kuangkat dagu Shanty tuk mengecup bibirnya dengan lembut. Mendesah dengan lembut ia memeluk pundakku sambil berbisik

    - Love me mas ... do it tonight

    Kuangkat sikunya, kupegang kedua pipinya dengan tanganku sambil mengecup bibirnya. Kuturunkan tanganku melepaskan kancing blues seragamnya yang atas satu demi satu ke bawah. Shanty ingin bercinta, atau hanya sekedar sex, aku belum paham. Setelah setelan atasnya tanggal, kulingkarkan tanganku ke belakang mencari resliting rok bawahnya. Tak henti kucium bibirnya dengan lembut, kemudian hidungnya, mata, kening, seluruh wajahnya kukecup perlahan.
    Masih berdiri Shanty sekarang tak tertutup sehelai benang pun, sedangkan aku hanya tinggal mengenakan celana dalam, pengaman terakhir penutup pusakaku.
    Sambil slow dance mengikuti alunan lagu kami masih berpelukan saling mencium dan mendekap satu sama lain.

    - Love you mas ...

    Akhirnya kulanjutkan dengan membimbingnya ke dipan, mengajaknya duduk, tapi mencegahnya berbaring. Dengan berlutut di hadapannya kubuka kedua pahanya yang indah dan berpangkal pada ujung lebat rambut hitam di bawah. Kudekatkan badanku dan meraba lembut kedua buah dadanya yang aduhai jelas terlihat. Ia merangkul kepalaku mengajakku rebahan, tapi kutahan tuk tetap bertahan di posisi ini, sambil menghisap pangkal lehernya perlahan tapi hisapan yang lama, hingga ia merintih lemah.
    Kuremas kedua belah dadanya dan mengurut lembut ke arah ujung hingga putingnya, yang empuk itu lama-lama mengeras. Kedua buah dada itu juga lama-lama mengeras, sintal, enak dipegang rasanya. Akhirnya kuturunkan tanganku menguak lebat rambut bawahnya itu yang disambut dengan makin melebarkan pahanya dihadapanku. kuturunkan mulutku menghisap puting kirinya dalam-dalam.
    Tanganku memijit lembut pangkal paha yang sekarang terbuka, terkuak dengan posisi duduk Shanty yang menggairahkan. ku usap2 sekitar lubangnya dengan lembut. Dengan ibu jari kumainkan tonjolan daging di bagian atasnya, sementara telunjuk dan jari tengah memutar sekitarnya dengan lembut, membuat Shanty makin merintih.
    Dengan mendekapkan kepalaku ke dadanya, Shanty berusaha menarik tubuhnya tuk berbaring.
    Kuikuti kemauannya, kutindih tapi tetap tangan kananku bermain di pusat permainan bawah.
    Sambil merintih dan mendesah kemudian santi mengangkat kedua pahanya ke atas, menguakkan area yang paling vital itu. Kubiarkan tangannya menggapai tangan kananku mengajakku bermain di sana. Kubiarkan ia mencari sendiri spotnya untukku. Sambil terus mempermainkan ibu jariku, perlahan tapi pasti telunjuk dan jari tengahku mulai mengarah ke lubang pusat itu, memasukinya perlahan.
    Lutut Shanty bergoyang, naik turun, membuka paha dan mengesek perlahan pada tanganku, sambil mendesah ia sekarang mendekap erat kepalaku di dadanya yang masih mengecup dadanya bergantian.
    Bgeitu kedua jari tanganku sudah masuk semua, kukuak dalamnya dan mempermainkan dalamnya, memutar di dalam tak baraturan, tapi berirama keluar masuk.
    Menggeliat Shanty mendesah desah menggoyangkan pangkal pahanya mengejar puncak nikmat yang dicarinya malam ini. Semakin cepat irama tanganku, semakin mendesah Shanty mengeluarkan suara dan kemudian mendorong kepalaku kebawah.
    Di depanku terpampang jelas pemandangan indah tuk malem ini, berambut hitam disekitar, tergunting rapi, kuperhatikan tengah dan atasnya tempat jemariku yang sedang bermain saat itu ..

    - mass ... hiiissaap ... - pintanya memelas

    kudekatkan mulutku bingung mana dahulu yang musti tersentuh. Akhirnya kupilih lokasi atas, tonjolan daging kecil itu yang kusentuh dengan lidah. sambil menggoyang lidah, aku memainkan ibu jariku di sekitarnya. Tak tahan kuhisap area itu kupermainkan lidahku di dalamnya memutari daging kecil tersebut.

    - Awwwaawawawwwaw .... - jerit kecilnya menikmti

    Kumasukan tiga jari sekarang ke dalam lubang bawahnya.
    Kualunkan irama yang semakin lama semakin cepat.
    Kukuak dalam lubangnya dengan tingkah polah jariku.
    semakin cepat Shanty ikut bergoyang.
    Semakin cepat gerakanku.

    - saaayaaaaaang ... bentar lagiiii ... terussssss

    Kupercepat lagi irama semua gerakanku, lidah dan jariku.

    - AAARGHHHH ... HHEEEMMMMMM SSSSSS

    Bergetar, berkelojotan, menegang semua ototnya saat berteriak.
    Dengan cepat kepalaku ditarik ke atas, didekap erat ke dadanya, yang tak kusia siakan dengan langsung menghisap putingnya, sementara tanganku belum berhenti.

    - Sssssudahha .... keluarrrr .... - pekiknya mengejang.

    Aku merangkak ke atas tubuhnya, mengecup bibirnya ...
    Kubiarkan ia memejamkan mata, tubuh terlentangnya mengatur nafas.
    Aku turun dari dipan, mengganti lagu di laptop ke slow rock playlist.
    Kemudian mendekatinya. sambil berbisik di telinganya.

    - Itu awalku tuk jadi suamimu malem ni.
    - Lalu kalau aku membutuhkan istri, seperti apa yang kau berikan padaku Shanty ?

    Ia membuka matanya perlahan menatapku, tampak berpikir sejenak. Kemudian mendorongku rebah di sampingnya. merangkulku dan mengecup putingku. Tangan kirinya langsung dengan cepat menemukan pusakaku di balik celana dalamku. Meremas, memijitnya, menggesekkan naik turun.
    kemudian kepalanya turun mendekati pusar, melewatinya sambil menjilat liar.
    kemudian turun menggigit celanaku dalamku, menarik, menanggalkannya di bawah ranjang.
    Dengan kedua tangannya memilin pusakaku, memutarnya, perlahan tapi pasti, mendekatkan bibirnya ke ujung atas yang mulai tegang itu.

    - Ambil tissue dulu yang ... - pintaku

    Dengan cepat Shanty tanpa bertanya mengambil tissue di meja dan melanjutkan kegiatannya yang tadi.
    Kubiarkan tissue itu di kasur, sambil menikmati usaha Shanty yang baru saat ini kurasakan darinya. Setelah tegang Shanty merangkak ke atas tubuhku, bagaikan kucing, matanya mulai liar, berbeda saat awal masuk kamar tadi.
    Ketika meraih pusakaku untuk dimasukkan ke lubang indah miliknya, aku dengan cepat duduk dan meraih pantat dan paha kirinya ke arahku, mengajaknya posisi 69 dengan dia di atas.
    Dengan cepat ia menyodorkan lubangnya yang tampak basah, sedikit merah itu ke mulutku, sambil menerkam pusakaku dengan tangan dan mulutnya.
    Kumasukan lagi jemariku ke dalam lubang di depan wajahku itu, sambil berusaha sesekali menjilat daging kecil yang sekarang ada di bawah itu.
    Pusakaku terasa tegang bukan main dipermainkan Shanty dengan cepat iramanya. Hampir pasti aku sebentar lagi sampai puncak kalau tidak kuatur nafasku. Terasa sekali Shanty melakukan itu dengan cepat iramanya, ingin segera mengajakku memasukan ke lubangnya.
    Kupeluk pinggangnya dan kubanting perlahan kesebelahku, membuatku berada di atasnya.
    Pusakaku yang tegang segera kuhujamkan ke mulutnya yang mulai terasa kerepotan dengan panjangnya. Sebetulnya pusakaku tidak terlalu panjang, tapi mana muat seluruhnya di mulut wanita matang ini ? Grafitasi yang membantuku meluruskan pusakaku yang tetap menghujam naik turun ke mulutnya, membantu gayaku menghadapinya.
    tanganku yang segera menguak pangkal pahanya setelah bergulir tadi kulanjutkan dengan melahap daging kecil kemaluannya dengan meulutku dengan rakus kuhisap dan kuputar lidahku di dalamnya.
    Sambil membantu membuka paha dengan sikuku, tanganku mulai mengelap lubang bagian vagina yang tercium wangi dengan tissue.

    - MMM! ... MMM!

    Sambil menjerit tertahan, karena pusakaku masih dalam mulutnya, Shanty sekarang menggoyangkan panggulnya, mengarahkan pangkal pahanya agar tetap dimulutku. Kuputar2 tanganku yang mulai bermain kedalamnya dengan dua jariku.

    - MMMMM! .... MMMMM!!

    ia terus memekik tertahan.

    - MMMMM! ....

    sekarang cepat sekali gerakan pangkal pahanya maju mundur.

    - MMM! ... MMM!

    tangannya sekarang mencengkram pahaku, mngisyaratkanku sudah waktunya kelangkah selanjutnya.
    Tapi makin cepat gerakan lidahku, tangan dan pusakaku bermain.
    Cengkeramanya semakin keras, hingga kuakhiri dengan mengangkat pahaku kananku, memutar tubuhku menghadapinya.
    Segera kuberada di ujung dipan, berhadapan dengan kedua pahanya yang sudah terbuka cukup lebar itu.
    Sambil meraih tissue terakhir, kuusap lendir yang membasahi lubang kemaluannya dengan lembut, sementara Shanty mengerang sudah mununggu dengan tidak sabar untuk melakukan adegan final.
    Dengan sedikit kasar kutarik pahanya mendekatiku

    - Hagh! - pekiknya

    Kuangkat sedikit panggulnya, dan dengan perlahan aku maju mengarahkan pusakaku ke lubangnya yang kini terbuka ke atas.
    Sambil bertopang dengan tanganku, dengan perlahan pusakaku kumasukkan ke dalam, menikmati mulut bawah Shanty yang lebih nikmat itu. kumasukan sampai pangkal pahaku menyentuh miliknya, membuatnya merintih perlahan menikmatinya.
    Kemudian kuangkat tubuhku naik hingga setengah kepalanya keluar, tinggal ujung kepala pusakaku yang tersisa didalam.
    kemudian kuhunjamkan cepat2 dan dalam-dalam.

    - Argh! - pekiknya lagi

    Kucabut hingga ujung kepala saja yang tertinggal secara perlahan, kemudian mehunjamkan cepat2 ke dalam miliknya.

    - AArgh! - pekiknya sambil meremas lenganku, memandangiku ingin tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya.

    kucabut cepat dan kuhujam secara cepat tapi agak lama di dalam dan di luar lubang, membuatnya mengangkat alis dan memekik terus saat kulakukan keduanya.

    - Argh!
    - Argh!
    - Ahh!

    Akhirnya kubuat tempo cepat semuanya, menghujam kedalam, mencabut setengah, berada di dalam atau diluar. tubuhku naik turun karenanya. Semakin cepat gerakanku hingga ia memekik panjang panjang sekarang

    - AAAAAAAHHHHHH!!!! AAAAHHHH!!!!

    tubuhnya bergoyang juga, ke kanan, kiri, depan, belakang, mencari irama yang sama.
    Kupercepat lagi gerakanku seperti mendrill atau membor di lubangnya.

    - AAAAAAAAAAAAAAAAARRRGGGHHH!!!!

    Teriakan panjangnya berhenti saat aku menghentikan gerakankusekeika.
    Terlihat tubuhnya masih bergerak cepat berusaha mengimbangi gerakanku yang tadi. Lalu mulai ikut berhenti.
    Tersengal sengal ia menutup mukanya, perutnya bergoyang naik turun sesuai nafasnya.

    Kuangkat paha kanannya, kusandarkan betisnya kebahu kiriku, membuatnya setengah terguling ke sisi. sambil melirikku, ia tersenyum senang.

    - Lakukan sayang ... sesukamu. milikmu semuanya....

    Kubenamkan pusakaku kemudian menarik bergantian dengan berirama semakin cepat.

    - Mmm! MM!! MMM!! - memekik tertahan seirama gerakanku Shanty kini tidak mengeluarkan suara seperti tadi.

    Kupindahkan pahanya ke bahu kiriku, sambil mengangkat lutut kananku menahan agar tubuhnya tidak menutup ke bawah semua. aku masih ingin memainkan tanganku dilubangnya. dengan sedikit membungkuk, sambil menghujam dan menarik pusaka, kuusap tangan kananku ke bagian depan lubang, tempat daging kecil itu berada.

    - AAARGH!! ARGH!! - bersuara lagi si Shanty

    Kali ini kupercepat gerakanku seperti tadi, seirama juga tangan kananku mengusap usap.

    sambil memekik keras Shanty meremas seprei, memandangku, menunduk, memandangku lagi dan menunduk lama sambil menarik bantal meremas seolah hendak meremukaannya.
    Sudah paling cepat gerakanku ini, tak mungkin lebih cepat lagi, tapi kubiarkan irama ini terus berlangsung, seirama saat aku melakukan lari cepat mengelilingi lapangan saat latihan.
    Beberapa saat berlalu...
    Tiba2 tubuhnya berkelojotan, bergelinjang, bergetar diiringi teriakan tertahan panjangnya

    - AAAAARGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!!!!!!

    Terasa sekali otot tubuhnya kencang semua, mengejang, bergoyang tubuhnya bergerak hendak memeluk betis kananku. Tapi seperti kandas di tengah jalan, Shanty sekarang lemass, menutupi wajahnya dengan bantal, otot di pahanya terasa lemas sekarang, tidak kencang lagi.

    Kupindahkan betis kanannya ke bahu kiriku, sekarang paha kirinya kuangkat, betisnya kusandarkan ke bahu kananku.Dengan mendorong sedikit, kini aku meraih bantal dan meletakkan di bawah panggulnya.
    Terlihat wajah Shanty didepanku terkulai lemas, mulutnya sedikit terbuka, ada buih tipis mengalir keluar, sementar matanya memandangku kelelahan. Ingin ia mennghentikanku tapi kecupan di keningnya menahannya.

    - Tunggu ya sayangku ... sebentar lagi sampai ...

    Bisikku. Yang kemudian dibalas dengan senyumnya.
    Betisnya yang kini mengapit kepalaku, kuhujamkan pusakaku ke lubang Shanty yang terasa lebih sempit sekarang.
    Kuhujam naik turun mencari rasa gesekan di pusakaku, kusilangkan sekarang betisnya di depanku.
    Dengan mengerenyutkan dahi dan nafas terengah Shanty menatapku sayu.

    Kupercepat gerakanku setelah menemukan gesekan yang pas dan nikmat, kulihat tangannya mencengkeram lenganku dan bantal di bawah panggulnya. Kutahu akan sampai.
    Kupercepat lagi ... kali ini kupeluk tubuhnya yang berlipat sekarang, sambil mendesah mengikuti gerakanku, aku mulai merasa puncak kenikmatan itu hampir tercapai.
    Sambil kupeluk erat tubuhnya, kupercepat gerakanku dan kulepaskan energi di bawah pusarku ke sarang milik Shanty yang sudah siap dari tadi.

    - UUrrhgghhh - suara kerongkonganku mengiringi tercapainya puncak malam ini.

    Kurebahkan tubuhku di sebelahnya, yang merangkul leherku sambil berbisik

    - Love You mas ....

    Pulas kami terlentang, dimana tembang slow rock Chriss Cornell menemani kami tidur. Kulirik jam yang belum mencapai midnight, tapi sudah lelah aku ingin tidur

    ----

    suara warning sound di laptop terdengar nyaring membangunkanku. Aku melihat sekeliling kamar yang kosong, aku ingin menuju kamar mandi membasuh badan dan berendam lama di sana...

    Kudengar adzan subuh di ruang lobby saat aku turun ke bawah mencari Shanty. Sekiranya dia masih ada di hotel ini.
    Kupandang sekeliling ruangan yang sepi ini lalu aku bergerak ke lift, menuju lantai dua.

    Sesampai disana, masih sepi dan kulihat pemuda yang mngisi ember dengan cairan pembersih lantai menyapaku.

    - Selamat pagi pak, ada yang bisa dibantu ?
    - Bu Shanty mana mas ?
    - Oh baru saja pulang, terlihat letih, mungkin semaleman kerja lemburnya membuatnya kelelahan.
    - Ow begitu, terima kasih mas.
    - Ada yang bisa dibantu pak ?
    - Well that's it all mas, thank you ya
    - Ya pak, selamat pagi ...

    Sudah pulang dia, belum berbicara banyak kita semalam, kecuali beraksi banyak.
    Kulangkahkan kakiku ke depan pintu lift, menunggu lift datang lagi. Sambil berpikir rencana kegiatan pagi ini.
    Pintu lift terbuka, terlihat Lia berdiri menunduk di dalamnya, bersama Dini yang memegang lengan kirinya.

    - Selamat pagi - sapaku.
    - Hai - jawab Dini berat.
    - Nikmat jalan2nya ? meluangkan waktu semalam di mana tadi ?
    - Ah, berakhir di diskotik sebelah, masih area hotel ini juga mas.
    - Ikut nginap di hotel sini akhirnya ya ?
    - He eh - angguknya.
    - Keberatan kutemani ke kamar Lia ?
    - Ah, kebetulan mas. bimbing dia juga. agak berat nih.
    - Okay kubantu. - kataku bergeser ke sebelah Lia.

    Harum wangi minuman yang tercium membuatku ikut melayang.
    Kuantar mereka sampai kamar yang ditunjuk Dini. Ternyata kamar Sisil juga. Kubiarkan Dini masuk sambil memapah Lia.

    - Aku balik ke kamarku ya - pamitku
    - Oh ya mas, makasih - sambil meutar badan, kerepotan dengan Lia yang digandengnya dibarengi menutup pintu.

    Ah lift sudah tertutup dan ke bawah lagi. membuatku menuggu lagi di depan pintunya.
    Selang beberapa saat dibarengi pintu lift yang terbuka, badanku di dorong masuk dari belakang.

    - Hei - ujarku
    - Mas!

    Ternyata Dini. Wanita cantik jelita teman Lia tadi.

    Sambil mendorongku ke dinding lift, Dini dengan terbelalak tersenyum nakal bertanya

    - Sisil masih dalam posisi telah melakukan sesuatu yang heboh semalam. Kulihat sekeliling kamar, dan kudapat kartu nama dengan nama mas di meja. Dan parfum ruangan yang sama dengan yang mas pakai. Hayo mengaku. Apakah heboh semalam ?

    Kujawab dengan mengedipkan mata kananku
    - Kau ingin tahu detailnya ? itu kejadian sore. kejadiam malam atau pagi ini, mari ke kamarku

    - Hihihi - tawa Dini

    Tangannya meraih tanganku, bersamaan dengan dibukanya pintu lift.
    Aku mulai terbayang lagi apa yang akan terjadi pagi ini.

    Setelah menutup kamarku dan menguncinya, aku memeluk Dini, yang dengan renyah tertawa kecil.
    Kubuka rompi yang menutupi bajunya, dan dengan bantuan tangannnya melepaskan blueas putih serta bra hitamnya.
    Tersembul keluar kedua buah indah di dadanya dengan ujung merah muda.
    tersenyum ia melepaskan pakaian dan celanaku sementara rok mininya kusingkap sekilas, dan kutarik kebawah kain hitam segitiga pembungkus pangkal pahanya.
    ketika hendak melepas rok mini hitamnya, kutahan tangannya dan kuarahkan ke dadanya.
    Sambil memutar tubuhnya menghadap cermin kami berdua yang bertelanjang dada ini tersenyum.
    Segera kuremas yang ada di depan tanganku

    - OOuugh!! - pekiknya

    Kuremas sedikit kasar tapi malah membuatnya memekik kesenganan berkelangsungan.
    Terus kumelakukannya sampai beberapa saat

    - Agh! ... Yes! OWh ...

    Kuhantar tangannya meremas buah dadanya sendiri, sambil terperjam ia menikmatinya. Kemudian tanganku meninggalkan tangannya, turun ke bawah menyibakkan rock mininya memperliahtkan pangkal paha yang putih indah terbungkus bulu2 pendek bekas dicukur.
    segera kusambar dengan kedua tanganku, meremasnya, menyebabkan pekikan nyaring dan terbuka matanya

    - AAGH!!

    tapi Dini tersenyum. bukan main, dia menikmatinya.

    - Aaaarrrghh ....

    Menikmati kesenangan dengan lenguh dan nafas beratnya, kutarik kursi mendekat dan mengangkat paha kirinya, meletakkan kakinya di atas kursi. Semakin jelas pemandangan indah di cermin depanku terlihat.
    Dini juga melihat aku menikmati pemandangan itu, segera ia mengarahkan lubangnya ke cermin agar tampak lebih jelas.
    Kedua tanganku sudah bermain di situ. yang satu mengusap daging kecilnya, yang satu mengusap lubang vaginanya. rintihnya menikmati usahaku sambil menggoyangkan badan ia meremas dadanya. Ia
    masih menatap kaca, saat aku baringsut ke depannya membelakangi cermin dan berlutut menghadapi kemaluannya yang indah itu. segera saja kuangkat wajahku menghisap, memutar daging di dalamnya dengan lidahku.
    tangan kananku mulai mencoba menguak lubang vaginanya dengan jari-jariku, sementara tangan kiriku merangkul pahanya dan meremas pantannya.
    Ia menengadah ke atas memekik tertahan saat jari kananku masuk ke lubang milik Dini.
    Kali ini langsung tiga ujung jariku berusaha menguak menekan masuk ke dalam. kuputar tanganku seperti membor lubangnya dan kutarik dan kumasukan berirama
    Dini kini melengking pekiknya mengikuti nikmat gerakan tanganku.
    Kupercepat, masuk semua tiga jariku dan dia menunduk memejamkan mata, membukanya sebntar, memekik lagi, sambil mengangkat wajahnya ke atas.
    Ah, merasakan nikmat benar wanita ini.
    Tangan kiriku manyambar botol minuman di meja yang sudah ketenggak habis tadi isinya. Kupindahkan ke tangan kanan melalui belakang tubuhnya, yang segera kucoba kumasukan kepalanya ke lubang Dini yang mulai lebar dan basah itu.
    Kutekan botol itu ke atas perlahan sambil tetap memeluk paha kirinya. Dini menjeri kecil sambil menjinjitkan kaki kirinya di atas kursi.
    kumainkan naik turun perlahan dan tambah dalam, Dini memekik sambil mengangkat kaki kirinya ke meja sekarang.
    tangannya sekarang meremas kepalaku sambil berteriak kecil memekik tiada henti.

    - ARGH!! kasur!! berbaring!! Argh!! Penat!! Argh ...

    sambil perlahan mendorong ke bibir kasur aku tetap melakukan kegiatanku memasukan dan mencabut botol di kemaluannya itu. Setelah terduduk dan kemudian berbaring dengan kaki masih menggantung di pinggir tempat tidur kuteruskan kegiatanku itu.
    Mulutku sudah basah oleh lendirku sendiri atau miliknya, kini dengan dengan bertambah cepat, kulakukan usahaku ini mengolah lubang di depanku.

    Beberapa saat kemudian kakinya diangkat, bergetar, dibarengi getaran di perutnya dan dibawah perutnya, bersaamaan dengan otonya yang mengejang tegang

    - EEERRRGGGGGGGHHHHHH !!!!

    tidak berteriak, tapi telah mencapai apa yang dicarinya tadi.
    Tidak kubiarkan istirahat, setelah menurunkan celanaku memperlihatkan pusakaku yang tegang, ku naik tempat tidur melangkahi tubuhnya dengan kaki kiri, kemudian membungkuk mengarahkan pusakaku ke bawah, ke arah mulutnya.
    Dini sigap dan menyambar milikku sementara kedua tanganku membuka lagi belahan pangkal paha Dini dan memutar botol ke kanan dan kiri, mencabut setengah dan memasukkannya. aku mengalami sensasi hebat di pusakaku sembari menonton sendiri perbuatanku.
    Cukup tegang milikku jika untuk penetrasi ke dalam milik Dini.
    Kuturun dipan dan kugulirkan tubuhnya telungkup, dan menarik sediki pahanya sehingga lututnya menyentuh lantai. Kubuka pahanya dan segera kumasukkan pusakaku dalam lubang Dini yang basah semua itu.
    Kulakukan gerakan maju mundur dengan cepat. Kubuka belahan pantatnya dan tampak lubang yang kecil yang juga indah, bersih terawat.
    Pusakaku yang telah basah kena lendir di vaginanya, mulai ku arahkan ke lubang kecil di atasnya.

    - ARAGHH!! - Dini menjerit nyaring

    Tapi tetap telungkup dia menikmatinyua.
    Tangan kananku yang bkerja lagi di vaginanya menutupi usahaku ke arah lubang kecil pantatnya ini.
    Sembari memberi ludah banyak banyak di lubang, pusakaku perlahan tapi pasti berusaha keras melakukan tugasnya menembus elastisitas luang kecil itu.
    Dini masih mnjerit, memekik, mendesah, seirama gerakan tangan kananku dan botol yang bersamanya.
    Pusakaku sudah setengah kepalanya masuk menunggu tekanan berikutnya.
    Sambil perlahan terus menekan, mendengar rintihan Dini, aku mempercepat gerakan tanganku.
    Pantat Dini terus kupijat dengan tangan kiri melemaskan otot sekitar lubang yang hendak kumasuki.
    Setelah berapa lengkingan dan teriakan Dini, akhirnya kepala pusakaku beserta sebagian lehernya sudah didalam lubang.
    Kukeluarkan ludahku banyak2 membasahi lubang pantatnya, mulai kutarik dan kumasukan pusakaku.
    Dini menjerit tertahan sambil meremas kasur, seprei, menggigit bantal di depannya, tapi terus kulanjutkan usahaku sampai aku menemukan irama yan tepat untuk si pusakaku.
    tidak terbenam seluruhnya tapi rasa pijitan kuat dan remasan di kepala pusakaku sangat-sangatlah terasa nikmat. hingga kupercepat iramanya.

    - HMMM!!! HHHHMMM!!! HHHMMM!!!

    Dini menjerit sekeras-kerasnya tapi tertahan suaranya oleh bantal yang digigitnya sendiri sambil membenamkan wajahnya kebawah dalam2. Membuat tenang hatiku melakukan hal yang sungguh nikmat ini.
    Tangan keluar masuk memutar memainkan botol di lubang vagina, tubuhku naik turun memainkan pusakaku di lubang pantatnya yang putih itu.
    Jeritannya yang mengikuti iramaku itu begitu menekan tekanan darahku, mambuatku hampir mencapai tujuan.
    akhirnya kupercepat gerakanku di dua lubang Dini, yang diikuti irama jeritannya mengimbangiku.
    Badannya tetap bergoyang, pantatnya bergerak tak beraturan, entah merasakan nikmat atau sakit aku tak peduli.
    Tiba2 aku dikejutkan dengan ketatnya otot yang mencengkeram pusakaku di pantatnya, memyebabkan aku segera mencapai puncakku. yang segera kupaksa kupercepat tempo iramaku.
    Bukan main nikmatnya .... Kuraih nikmatku sekarang ....
    Dini menjerit panjang tanpa ditutup bantal, kepalanya mendongak ke atas, otot sekujur tubuhnya mengejang, tangannya meremas sprei dan bantal

    Dan puncakku tercapai seaat setelah itu ....

    Dini menoleh menatapku, mengeluarkan air mata, tapi tersenyun ... dan kucabut perlahan pusakaku setelah mengecil. Meskipun telah mengecil, terasa sekali otot yang meremasnya masih tegang di ditu.

    Dini mencoba bangkit tapi tertunduk lagi ke depan sedikit menungging sambil melebarkan kakinya.

    - masss ... aku belum pernah lewat situ mas .... sakittt ... - protesnya berbisik.
    - istirahat dulu Din, aku tau, tapi kapan lagi kalau tidak mencobanya. - belaiku menenangkannya.
    - tapi nikmat kan ? seperti malam pertamamu dahulu kan sayang .... - kubelai lembut.

    tangannya merangkul tubuhku sambil menangis sesenggukan.
    Dia berusaha berdiri tapi akhirnya berbaring telungkup lagi ... sambil menggigit bibir bawahnya.

    Aku berjalan ke kamar mandi, berusaha membersihkan diri segera, sebelum tiba waktunya menemani client ke Malang setelah sarapan pagi nanti.
    Benar benar tak pernah terpikir olehku kejadian yang tidak sampai 24 jam terakhir ini yang kualami. Tidak pernah terpikir sampai akhirnya terjadi.

    Pembantuku Yang Lugu

    Sebut saja namaku Paul. Aku bekerja di sebuah instansi pemerintahan di kota S, selain juga memiliki sebuah usaha wiraswasta. Sebetulnya aku sudah menikah, bahkan rasanya istriku tahu akan hobiku mencari daun-daun muda untuk “obat awet muda”. Dan memang pekerjaanku menunjang untuk itu, baik dari segi koneksi maupun dari segi finansial. Namun semenjak istriku tahu aku memiliki banyak sekali simpanan, suatu hari ia meninggalkanku tanpa pamit. Biarlah, malah aku bisa lebih bebas menyalurkan hasrat.

    Karena pembantu yang lama keluar untuk kawin di desanya, aku terpaksa mencari penggantinya di agen. Bukan saja karena berbagai pekerjaan rumah terbengkalai, juga rasanya kehilangan “obat stress”. Salah seorang calon yang menarik perhatianku bernama Ningsih, baru berusia (hampir) 16 tahun, berwajah cukup manis, dengan lesung pipit. Matanya sedikit sayu dan bibirnya kecil seksi. Seandainya kulitnya tidak sawo matang (meskipun bersih dan mulus juga), dia sudah mirip-mirip artis sinetron. Meskipun mungil, bodinya padat, dan yang terpenting, dari sikapnya aku yakin pengalaman gadis itu tidak sepolos wajahnya. Tanpa banyak tanya, langsung dia kuterima.

    Dan setelah beberapa hari, terbukti Ningsih memang cukup cekatan mengurus rumah. Namun beberapa kali pula aku memergokinya sedang sibuk di dapur dengan mengenakan kaos ketat dan rok yang sangat mini. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, aku mendekat dari belakang dan kucubit paha gadis itu. Ningsih terpekik kaget, namun setelah sadar majikannya yang berdiri di belakangnya, ia hanya merengut manja.

    Sore ini sepulang kerja aku kembali dibuat melotot disuguhi pemandangan yang ‘menegangkan’ saat Ningsih yang hanya berdaster tipis menungging sedang mengepel lantai, pantatnya yang montok bergoyang kiri-kanan. Tampak garis celana dalamnya membayang di balik dasternya. Tidak tahan membiarkan pantat seseksi itu, kutepuk pantat Ningsih keras-keras.

    “Ngepel atau nyanyi dangdut sih? Goyangnya kok merangsang sekali!” Ningsih terkikik geli mendengar komentarku, dan kembali meneruskan pekerjaannya. Dengan sengaja pantatnya malah digoyang semakin keras.

    Geli melihat tingkah Ningsih, kupegang pantat gadis itu kuat-kuat untuk menahan goyangannya. Saat Ningsih tertawa cekikikan, jempolku sengaja mengelus selangkangan gadis itu, menghentikan tawanya. Karena diam saja, perlahan kuelus paha Ningsih ke atas, menyingkapkan ujung dasternya.”Eh… Ndoro… jangan..!” cegah Ningsih lirih.
    “Nggak pa-pa, nggak usah takut, Nduk..!”
    “Jangan, Ndoro… malu… jangan sekarang..!”
    Dengan tergesa Ningsih bangkit membereskan ember dan kain pel, lalu bergegas menuju ke dapur.

    Malam harinya lewat intercom aku memanggil Ningsih untuk memijat punggungku yang pegal. Seharian penuh bersidang memang membutuhkan stamina yang prima. Agar tenagaku pulih untuk keperluan besok, tidak ada salahnya memberi pengalaman pada orang baru.

    Gadis itu muncul masih dengan daster merah tipisnya sambil membawa minyak gosok. Ningsih duduk di atas ranjang di sebelah tubuhku.
    Sementara jemari lentik Ningsih memijati punggung, kutanya, “Nduk, kamu sudah punya pacar belum..?”
    “Disini belum Ndoro…” jawab gadis itu.
    “Disini belum..? Berarti di luar sini sudah..?”
    Sambil tertawa malu-malu gadis itu menjawab lagi, “Dulu di desa saya pernah, tapi sudah saya putus.”
    “Lho, kenapa..?”
    “Habis mau enaknya saja dia.”
    “Mau enaknya saja gimana..?” kejarku.
    “Eh… itu, ya… maunya ngajak gituan terus, tapi kalau diajak kawin nggak mau.”

    Aku membalikkan badan agar dadaku juga turut dipijat.
    “Gituan gimana? Memangnya kamu nggak suka..?”
    Wajah Ningsih memerah, “Ya… itu… ngajak kelonan… tidur telanjang bareng…”
    “Kamu mau aja..?”
    “Ih, enggak! Kalau cuma disuruh ngemut burungnya saja sih nggak pa-pa. Mau sampai selesai juga boleh. Tapi yang lain Ningsih nggak mau..!”
    Aku tertawa, “Lha apa nggak belepotan..?”
    “Ah, enggak. Yang penting Ningsih juga puas tapi tetep perawan.”

    Aku semakin terbahak, “Kalau kamu juga puas, terus kenapa diputus..?”
    “Abis lama-lama Ningsih kesel! Ningsih kalau diajak macem-macem mau, tapi dia diajak kawin malah main mata sama cewek lain! Untung Ningsih cuma kasih emut aja, jadi sampai sekarang Ningsih masih perawan.”
    “Main emut terus gitu apa kamu nggak pengin nyoba yang beneran..?” godaku.
    Wajah Ningsih kembali memerah, “Eh… katanya sakit ya Ndoro..? Terus bisa hamil..?”

    Kini Ningsih berlutut mengangkangi tubuhku sambil menggosokkan minyak ke perutku. Saat gadis itu sedikit membungkuk, dari balik dasternya yang longgar tampak belahan buah dadanya yang montok alami tanpa penopang apapun.
    Sambil tanganku mengelus-elus kedua paha Ningsih yang terkangkang, aku menggoda, “Kalau sama Ndoro, Ningsih ngasih yang beneran atau cuma diemut..?”
    Pipi Ningsih kini merah padam, “Mmm… memangnya Ndoro mau sama Ningsih? Ningsih kan cuma pembantu? Cuma pelayan?”
    “Nah ini namanya juga melayani. Iya nggak?”
    Ningsih hanya tersenyum malu.

    “Aaah! Itu kan cuma jabatan. Yang penting kan orangnya..!”
    “Ehm.., kalau hamil gimana..?”
    “Jangan takut Nduk, kalau cuma sekali nggak bakalan hamil. Nanti Ndoro yang tanggung jawab..”
    Meskipun sedikit ragu dan malu, Ningsih menuruti dan menanggalkan dasternya.

    Sambil meletakkan pantatnya di atas pahaku, gadis itu dengan tersipu menyilangkan tangannya untuk menutupi kemontokan kedua payudaranya. Untuk beberapa saat aku memuaskan mata memandangi tubuh montok yang nyaris telanjang, sementara Ningsih dengan jengah membuang wajah. Dengan tidak sabaran kutarik pinggang Ningsih yang meliuk mulus agar ia berbaring di sisiku.

    Seumur hidup mungkin baru sekali ini Ningsih merasakan berbaring di atas kasur seempuk ini. Langsung saja kusergap gadis itu, kuciumi bibirnya yang tersenyum malu, pipinya yang lesung pipit, menggerayangi sekujur tubuhnya dan meremas-remas kedua payudaranya yang kenyal menggiurkan. Puting susunya yang kemerahan terasa keras mengacung. Kedua payudara gadis itu tidak terlalu besar, namun montok pas segenggaman tangan. Dan kedua bukit itu berdiri tegak menantang, tidak menggantung. Gadis desa ini memang sedang ranum-ranumnya, siap untuk dipetik dan dinikmati.

    “Mmmhh… Oh! Ahhh! Oh… Ndorooo… eh.. mmm… burungnya… mau Ningsih emut dulu nggak..?” tanya gadis itu diantara nafasnya yang terengah-engah.
    “Lepas dulu celana dalam kamu Nduk, baru kamu boleh emut.”
    Tersipu Ningsih bangkit, lalu memelorotkan celana dalamnya hingga kini gadis itu telanjang bulat. Perlahan Ningsih berlutut di sisiku, meraih kejantananku dan mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Sambil menyibakkan rambutnya, gadis itu sedikit terbelalak melihat besarnya kejantananku. Mungkin ia membayangkan bagaimana benda berotot sebesar itu dapat masuk di tubuhnya.

    Aku segera merasakan sensasi yang luar biasa ketika Ningsih mulai mengulum kejantananku, memainkan lidahnya dan menghisap dengan mulut mungilnya sampai pipinya ‘kempot’. Gadis ini ternyata pintar membuat kejantananku cepat gagah.
    “Ehm… srrrp… mmm… crup! Ahmm… mmm… mmmh..! Nggolo (ndoro)..! Hangang keyas-keyas (jangan keras-keras)..! Srrrp..!”
    Gadis itu tergeliat dan memprotes ketika aku meraih payudaranya yang montok dan meremasinya. Namun aku tak perduli, bahkan tangan kananku kini mengelus belahan pantat Ningsih yang bulat penuh, terus turun sampai ke bibir kemaluannya yang masih jarang-jarang rambutnya. Maklum, masih perawan.

    Gadis itu tergelinjang tanpa berani bersuara ketika jemariku menyibakkan bibir kemaluannya dan menelusup dalam kemaluannya yang masih perawan. Merasa kejantananku sudah cukup gagah, kusuruh Ningsih mengambil pisau cukur di atas meja, lalu kembali ke atas ranjang. Tersipu-sipu gadis perawan itu mengambil bantal berusaha untuk menutupi ketelanjangannya.

    Malu-malu gadis itu menuruti perintah majikannya berbaring telentang menekuk lutut dan merenggangkan pahanya, mempertontonkan rambut kemaluannya yang hanya sedikit. Tanpa menggunakan foam, langsung kucukur habis rambut di selangkangan gadis itu, membuat Ningsih tergelinjang karena perih tanpa berani menolak. Kini bibir kemaluan Ningsih mulus kemerahmerahan seperti kemaluan seorang gadis yang belum cukup umur, namun dengan payudara yang kencang.

    Dengan sigap aku menindih tubuh montok menggiurkan yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun itu. Tersipu-sipu Ningsih membuang wajah dan menutupi payudaranya dengan telapak tangan. Namun segera kutarik kedua tangan Ningsih ke atas kepalanya, lalu menyibakkan paha gadis itu yang sudah mengangkang. Pasrah Ningsih memejamkan mata menantikan saatnya mempersembahkan keperawanannya.

    Gadis itu menahan nafas dan menggigit bibir saat jemariku mempermainkan bibir kemaluannya yang basah terangsang. Perlahan kedua paha mulus Ningsih terkangkang semakin lebar. Aku menyapukan ujung kejantananku pada bibir kemaluan gadis itu, membuat nafasnya semakin memburu. Perlahan tapi pasti, kejantananku menerobos masuk ke dalam kehangatan tubuh perawan Ningsih. Ketika selaput dara gadis manis itu sedikit menghalangi, dengan perkasa kudorong terus, sampai ujung kejantananku menyodok dasar liang kemaluan Ningsih. Ternyata kemaluan gadis ini kecil dan sangat dangkal. Kejantananku hanya dapat masuk seluruhnya dalam kehangatan keperawanannya bila didorong cukup kuat sampai menekan dasar kemaluannya. Itu pun segera terdesak keluar lagi.

    Ningsih terpekik sambil tergeliat merasakan pedih menyengat di selangkangannya saat kurenggutkan keperawanan yang selama ini telah dijaganya baik-baik. Tapi gadis itu hanya berani meremas-remas bantal di kepalanya sambil menggigit bibir menahan sakit. Air mata gadis itu tak terasa menitik dari sudut mata, mengaburkan pandangannya. Ningsih merintih kesakitan ketika aku mulai bergerak menikmati kehangatan kemaluannya yang serasa ‘megap-megap’ dijejali benda sebesar itu. Namun rasa sakit dan pedih di selangkangannya perlahan tertutup oleh sensasi geli-geli nikmat yang luar biasa.

    Tiap kali kejantananku menekan dasar kemaluannya, gadis itu tergelinjang oleh ngilu bercampur nikmat yang belum pernah dirasakannya. Kejantananku bagai diremas-remas dalam liang kemaluan Ningsih yang begitu ‘peret’ dan legit. Dengan perkasa kudorong kejantananku sampai masuk seluruhnya dalam selangkangan gadis itu, membuat Ningsih tergelinjang-gelinjang sambil merintih nikmat tiap kali dasar kemaluannya disodok.

    “Ahh… Ndoro..! Aa… ah..! Aaa… ahk..! Oooh..! Ndorooo… Ningsih pengen… pih… pipiiis..!
    Aaa… aahh..!”
    Sensasi nikmat luar biasa membuat Ningsih dengan cepat terorgasme.
    “Tahan Nduk! Kamu nggak boleh pipis dulu..! Tunggu Ndoro pipisin kamu, baru kamu boleh pipis..!”
    Dengan patuh Ningsih mengencangkan otot selangkangannya sekuat tenaga berusaha menahan pipis, kepalanya menggeleng-geleng dengan mata terpejam, membuat rambutnya berantakan, namun beberapa saat kemudian…
    “Nggak tahan Ndorooo..! Ngh…! Ngh…! Ngggh! Aaaiii… iik..! Aaa… aaahk..!” Tanpa dapat ditahan-tahan, Ningsih tergelinjang-gelinjang di bawah tindihanku sambil memekik dengan nafas tersengal-sengal.
    Payudaranya yang bulat dan kenyal berguncang menekan dadaku saat gadis itu memeluk erat tubuh majikannya, dan kemaluannya yang begitu rapat bergerak mencucup-cucup.

    Berpura-pura marah, aku menghentikan genjotannya dan menarik kejantananku keluar dari tubuh Ningsih.
    “Dibilang jangan pipis dulu kok bandel..! Awas kalau berani pipis lagi..!” Tampak kejantananku bersimbah cairan bening bercampur kemerahan, tanda gadis itu betul-betul masih perawan. Gadis itu mengira majikannya sudah selesai, memejamkan mata sambil tersenyum puas dan mengatur nafasnya yang ‘senen-kamis’. Di pangkal paha gadis itu tampak juga darah perawan menitik dari bibir kemaluannya yang perlahan menutup.

    Aku menarik pinggang Ningsih ke atas, lalu mendorong sebuah bantal empuk ke bawah pantat Ningsih, membuat tubuh telanjang gadis itu agak melengkung karena pantatnya diganjal bantal. Tanpa basa-basi kembali kutindih tubuh montok Ningsih, dan kembali kutancapkan kejantananku dalam liang kemaluan gadis itu. Dengan posisi pantat terganjal, klentit Ningsih yang peka menjadi sedikit mendongak. Sehingga ketika aku kembali melanjutkan tusukanku, gadis itu tergelinjang dan terpekik merasakan sensasi yang bahkan lebih nikmat lagi dari yang barusan.

    “Mau terus apa brenti, Nduk..?” godaku.
    “Aii… iih..! He.. eh..! Terus Ndorooo..! Enak..! Enak..! Aahh… Aiii… iik..!”
    Tubuh Ningsih yang montok menggiurkan tergelinjang-gelinjang dengan nikmat dengan nafas tersengal-sengal diantara pekikan-pekikan manjanya.
    “Ooo… ohh..! Ndoroo.., Ningsih pengen pipis.. lagiii… iih..!”
    “Yang ini ditahan dulu..! Tahan Nduk..!”
    “Aa.. aak..! Ampuuu… unnhh..! Ningsih nggak kuat… Ndorooo..!”
    Seiring pekikan manjanya, tubuh gadis itu tergeliat-geliat di atas ranjang empuk.

    Pekikan manja Ningsih semakin keras setiap kali tubuh telanjangnya tergerinjal saat kusodok dasar liang kegadisannya, membuat kedua pahanya tersentak mengangkang semakin lebar, semakin mempermudah aku menikmati tubuh perawannya. Dengan gemas sekuat tenaga kuremas-remas kedua payudara Ningsih hingga tampak berbekas kemerah-merahan. Begitu kuatnya remasanku hingga cairan putih susu menitik keluar dari putingnya yang kecoklatan.
    “Ahhhk..! Aaa.. aah! Aduu.. uhh! Sakit Ndorooo..! Ningsih mau pipiiiiss..!”

    Dengan maksud menggoda gadis itu, aku menghentikan sodokannya dan mencabut kejantanannya justru disaat Ningsih mulai orgasme.
    “Mau pipis Nduk..?” tanyaku pura-pura kesal.
    “Oohh… Ndorooo… terusin dong..! Cuma ‘dikit, nggak pa-pa kok..!” rengek gadis itu manja.
    “Kamu itu nggak boleh pipis sebelum Ndoro pipisin kamu, tahu..?” aku terus berpura-pura marah.
    Tampak bibir kemaluan Ningsih yang gundul kini kemerah-merahan dan bergerak berdenyut.
    “Enggak! Enggak kok! Ningsih enggak berani Ndoro..!”

    Ningsih memeluk dan berusaha menarik tubuhku agar kembali menindih tubuhnya. Rasanya sebentar lagi gadis itu mau pipis untuk ketiga kalinya.
    “Kalau sampai pipis lagi, Ndoro bakal marah, lho Nduk..?” kuremas kedua buah dada montok Ningsih.
    “Engh… Enggak. Nggak berani.” Wajah gadis itu berkerut menahan pipis.
    “Awas kalau berani..!” kukeraskan cengkeraman tangannya hingga payudara gadis itu seperti balon melotot dan cairan putih susu kembali menetes dari putingnya.

    “Ahk! Aah..! Nggak berani, Ndoro..!”
    Ningsih menggigit bibir menahan sakitnya remasan-remasanku yang bukannya dilepas malah semakin kuat dan cepat. Namun gadis itu segera merasakan ganjarannya saat kejantananku kembali menghajar kemaluannya. Tak ayal lagi, Ningsih kembali tergiur tanpa ampun begitu dasar liang kemaluannya ditekan kuat.
    “Ngh..! Ngh..! Nggghhh..! Ahk… Aaa… aahhh..! Ndorooo… ampuuu… uun..!”
    Tubuh montok gadis itu tergerinjal seiring pekikan manjanya.

    Begitu cepatnya Ningsih mencapai puncak membuat aku semakin gemas menggeluti tubuh perawannya. Tanpa ampun kucengkeram kedua bukit montok yang berdiri menantang di hadapanku dan meremasinya dengan kuat, meninggalkan bekas kemerahan di kulit payudara Ningsih. Sementara genjotan demi genjotan kejantananku menyodok kemaluan gadis itu yang hangat mencucup-cucup menggiurkan, bagai memohon semburan puncak.

    Gadis itu sendiri sudah tak tahu lagi mana atas mana bawah, kenikmatan luar biasa tidak henti-hentinya memancar dari selangkangannya. Rasanya seperti ingin pipis tapi nikmat luar biasa membuat Ningsih tidak sadar memekik-mekik manja. Kedua pahanya yang sehari-hari biasanya disilangkan rapat-rapat, kini terkangkang lebar, sementara liang kemaluannya tanpa dapat ditahan-tahan berdenyut mencucup kejantananku yang begitu perkasa menggagahinya. Sekujur tubuh gadis itu basah bersimbah keringat.

    “Hih! Rasain! Dibilang jangan pipis! Mau ngelawan ya..!” Gemas kucengkeram kedua buah dada Ningsih erat-erat sambil menghentakkan kejantananku sejauh mungkin dalam kemaluan dangkal gadis itu.
    Ningsih tergelinjang-gelinjang tidak berdaya tiap kali dasar kemaluannya disodok. Pantat gadis itu yang terganjal bantal empuk berulangkali tersentak naik menahan nikmat.
    “Oooh… Ndorooo..! Ahk..! Ampun..! Ampun Ndoroo..! Sudah..! Ampuuu.. unn..!” Ningsih merintih memohon ampun tidak sanggup lagi merasakan kegiuran yang tidak kunjung reda.

    Begitu lama majikannya menggagahinya, seolah tidak akan pernah selesai. Tidak terasa air matanya kembali berlinang membasahi pipinya. Kedua tangan gadis itu menggapai-gapai tanpa daya, paha mulusnya tersentak terkangkang tiap kali kemaluannya dijejali kejantananku, nafasnya tersengal dan terputus-putus. Bagian dalam tubuhnya terasa ngilu disodok tanpa henti. Putus asa Ningsih merengek memohon ampun, majikannya bagai tak kenal lelah terus menggagahi kegadisannya. Bagi gadis itu seperti bertahun-tahun ia telah melayani majikannya dengan pasrah.

    Menyadari kini Ningsih sedang terorgasme berkepanjangan, aku tarik paha Ningsih ke atas hingga menyentuh payudaranya dan merapatkannya. Akibatnya kemaluan gadis itu menjadi semakin sempit menjepit kejantananku yang terus menghentak keluar masuk. Ningsih berusaha kembali mengangkang, namun dengan perkasa semakin kurapatkan kedua paha mulusnya. Mata Ningsih yang bulat terbeliak dan berputar-putar, sedangkan bibirnya merah merekah membentuk huruf ‘O’ tanpa ada suara yang keluar. Sensasi antara pedih dan nikmat yang luar biasa di selangkangannya kini semakin menjadi-jadi.

    Aku semakin bersemangat menggenjotkan kejantananku dalam hangatnya cengkeraman pangkal paha Ningsih, membuat gadis itu terpekik-pekik nikmat dengan tubuh terdorong menyentak ke atas tiap kali kemaluannya disodok keras.
    “Hih! Rasain! Rasain! Nih! Nih! Nihh..!” aku semakin geram merasakan kemaluan Ningsih yang begitu sempit dan dangkal seperti mencucup-cucup kejantananku.
    “Ahh..! Ampuuu…uun… ampun… Ndoro! Aduh… sakiit… ampuuu… un..!”

    Begitu merasakan kenikmatan mulai memuncak, dengan gemas kuremas kedua payudara Ningsih yang kemerah-merahan berkilat bersimbah keringat dan cairan putih dari putingnya, menumpukan seluruh berat tubuhku pada tubuh gadis itu dengan kedua paha gadis itu terjepit di antara tubuh kami, membuat tubuh Ningsih melesak dalam empuknya ranjang.

    Pekikan tertahan gadis itu, gelinjangan tubuhnya yang padat telanjang dan ‘peret’-nya kemaluannya yang masih perawan membuatku semakin hebat menggeluti gadis itu.
    “Aduh! Aduu… uuhh… sakit Ndoro! Aaah… aaamm… aaammpuuun… ampuuu… uun Ndoro..
    Ningsih… pipiiii… iiis! Aaammm… puuun..!”
    Dan akhirnya kuhujamkan kejantananku sedalam-dalamnya memenuhi kemaluan Ningsih, membuat tubuh telanjang gadis itu terlonjak dalam tindihanku, namun tertahan oleh cengkeraman tanganku pada kedua buah dada Ningsih yang halus mulus.

    Tanpa dapat kutahan, kusemburkan sperma dalam cucupan kemaluan Ningsih yang hangat menggiurkan sambil dengan sekuat tenaga meremas-remas kedua buah dada gadis itu, membuat Ningsih tergerinjal antara sakit dan nikmat.
    “Ahk! Auh..! Aaa… aauuhh! Oh… ampuuu…uun Ndoro! Terus Ndoro..! Ampuuun! Amm… mmh..! Aaa… aaakh..!”

    Dengan puas aku menjatuhkan tubuh di sisi tubuh Ningsih yang sintal, membuat gadis itu turut terguling ke samping, namun kemudian gadis itu memeluk tubuhku. Sambil terisak-isak bahagia, Ningsih memeluk tubuhku dan mengelus-elus punggungku.

    Sambil mengatur nafas, aku berpikir untuk menaikkan gaji Ningsih beberapa kali lipat, agar gadis itu betah bekerja di sini, dan dapat melayaniku setiap saat. Dengan tubuh yang masih gemetar dan lemas, Ningsih perlahan turun dari ranjang dan mulai melompat-lompat di samping ranjang.
    Keheranan aku bertanya, “Ngapain kamu, Nduk..?”
    “Katanya… biar nggak hamil harus lompat.. lompat, Ndoro..” jawab gadis itu polos.
    Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya, melihat cairan kental meleleh dari pangkal paha gadis itu yang mulus tanpa sehelai rambut pun.

    story by:
    francis drake

    Nikmatnya Nafsu Birahi Ibu Kost

    Terus terang, semuanya terjadi secara tidak sengaja. Pada waktu itu aku membeli buku tentang indera ke-enam atau “bawah sadar”, tadinya sekedar iseng waktu berada di suatu toko buku. Inti buku itu mengajarkan begini. Kalau kita menginginkan sesuatu maka kita harus mencoba menvisualisasikannya.. Suatu saat apa yang kita visualisasikan itu akan terjadi, akan terlaksana. Mimpi? Bukan. Sebab untuk mencapai indera ke-enam seseorang justru tidak boleh tertidur, tetapi perlu menurunkan gelombang listrik di-otaknya dari gelombang beta menjadi alfa. Caranya? Gampang sekali.. Kita cukup memejamkan mata, membayangkan menuruni tangga spiral dengan minimal 10 gigi. Saat anda membayangkan ini, gelombang listrik di otak anda akan menurun frekuensinga dari 13 cycle atau lebih perdetik, menjadi 8-13 cycle per detik. Kelihatannya mudah tetapi butuh latihan, jadinya ya sukar.. He. He.. Nah di saat itulah kita memasuki bawah sadar (unconsciousness)

    Apa keinginnan saya? Lha ini yang kurang ajar. Aku ingin nangkring di tubuh Nyai Elis (waktu muda panggilannya Neng Elis). Nyai Elis adalah ibu kostku. Kenapa Nyai? Pertama, kemungkinan hamil nol persen. Pada usia 48 tahun biasanya wanita sudah masuk masa menopause. Yang kedua, ditanggung bersih, sehat tak mungkin kena penyakit “kotor” seperti gonorrhoe, syphilis, HIV dsb. Yang ketiga, gratis tidak perlu bayar, karena sama-sama menikmati. Untuk wanita, bersebadan dengan orang usia lebih muda akan menambah hormon estrogen, hormon khas wanita. Kalau wanita kekurangan hormon ini akan menderita osteoporosis, yaitu tulang menjadi rapuh, mudah patah.

    Meskipun sudah kepala empat, tapi jangan meremehkan kecantikannya. Wajah Nyai masih terlihat ayu. Kulit kuning langsat, tubuh langsing semampai. Secara legendaris, wanita sunda sangat rajin memelihara wajah dan tubuhnya. Mandi lulur sudah seperti prosedur tetap mingguan. Membedaki wajah dengan berbagai ramuan menjadi rutinitas harian. Itu sebabnya tidak hanya wajah dan tubuhnya yang mengesankan. Bau badannya juga sedap dengan aroma lembut. Lalu kalau mau tahu seperti siapa? Seperti siapa ya..? Nah kira-kira seperti itu.. Diana Lorenza, janda beranak satu dari Heru Kusuma.

    Sudah tiga tahun aku tinggal di kost milik keluarga Padmadireja (suami Nyai Elis), pensiunan wedana di salah satu kabupaten di Jawa Barat. Keluarga Pak Padma-Nyai Elis ini mempunyai putera dua orang, semua sudah berkeluarga dan tinggal di Jakarta. Tinggalah Bapak├é–Ibu semang kostku ini dibantu seorang PRT dan seorang supir. Semua karyawan ini pulang sore.

    Sudah seminggu aku latihan meditasi, belum ada hasil. Tambah tiga hari lagi, meskipun hampir putus asa. Tiba-tiba.., pada hari ke sebelas..

    Malam itu sudah pukul 10, pintu kamarku diketuk orang.

    “Mas Agus.. Mas Agus”
    “Ya.. Nyai”
    “Tolong kerokin ibu sebentar ya..”

    Pucuk dicinta, ulam tiba, burung dahaga, apem menganga.., hatiku berjingkrak bukan main.

    “Sebentar Bu, saya ganti pakaian dulu”

    Kamar-kamar yang dipakai kost letaknya di belakang rumah utama, dipisahkan oleh satu kebun kecil. Ada enam kamar, membentuk huruf U mengelilingi kebun. Masing-masing kamar berpenghuni satu orang. Kebetulan waktu itu masa liburan, namun karena aku harus mengejar “deadline” penyelesaian skripsi, terpaksa aku tidak dapat mudik. Hiya khan, masak sudah jadi mahasiswa PTN terkenal seantero dunia rela di-DO.

    Singkat cerita aku sudah duduk di tepi tempat tidur di kamar Nyai. Duduk dengan bersimpuh, ya.. seperti “pengerok” professional itu. Badan Nyai dalam posisi tengkurap di depan saya. Punggungnya yang putih, mulus tanpa penutup apapun. Hanya tali BH sudah dilepas, tetapi buah dadanya masih sedikit terlihat, tergencet di bawahnya.. Leher Nyai terlihat jenjang, putih, dengan rambut yang panjang sampai ke pinggang, disibakkan ke samping. Punggung ke bawah ada sejenis kain sarung yang diikatkan sekenanya secara longgar. Ke bawah, kain itu hanya menutupi sampai lipatan lutut. Di bawahnya betis yang halus, kencang.

    Wajah Nyai menghadap ke samping di mana saya duduk. Sesekali meraba lutut saya, entah apa maksudnya. Pemandangan ini mampu dan makin mengeraskan burungku yang sejak dari kamar tidurku mulai melongok, eh.. bangun menggeliat (Jawa: ngaceng). Dalam waktu 15 menit seluruh punggung Nyai sudah aku keroki. Suasana sekitar kamar hening, hanya degub jantungku yang makin mengeras.

    Burungku, pelan tapi pasti makin menegang juga. Aku diam, Nyai juga demikian. Mau ngomong apa aku? Bicara tentang Pak Padma..? Ah sama aja bicara tentang kompetitor. Toh malam ini aku yang akan menjadi “Mas Padma”, akan menumbuk padi di lumbung Nyai. Mau ngomong anak-anak Nyai? Yang akan ditengok Pak Padma yang sore tadi berangkat? Ngapain toh sebentar lagi aku akan menganggap Nyai ini ibarat pacarku.

    “Pinggangnya juga ya Mas..”
    “Ya.. Ya.. Bu..”, jawabku seperti terbangun dari lamunan berahi.

    Aku tarik kain yang menutupi pinggang Nyai. Ya ampun.. Rupanya Nyai sudah melepas celana dalamnya. Kini di depan mataku ada pemandangan yang.. Waduh.. Ada gambaran parit sempit di tengah tulang pinggang memanjang ke bawah.. Terus.. Ke bawah, berujung di satu celah sempit di antara dua bukit pantat yang putih padat.. Menggemaskan.. Aku bayangkan.. Apa yang ada di depan pantat itu..

    Tiba-tiba Nyai membalikkan badannya..

    “Depan ya Mas..”

    Dengan mata terbelalak kaget, kini aku melihat pemandangan yang luar biasa, yang belum pernah kulihat selama 24 tahun berada di kolong langit. Seorang wanita dengan kulit langsat telanjang bulat, dengan lingkaran perut pinggang ramping, buah dada masih lumayan besar, meskipun sudah rebah ke samping. Di tengan buah dada yang ber “pola” tempurung, terlihat puting besar warna hitam dikelilingi area hitam kecoklatan.. Di bawah pusar ada rambut yang mula-mula jarang tetapi semakin ke bawah semakin lebat, sepeti gambaran menara “Eiffel” dengan ujung runcingnya menuju pusar.. Di pangkal tumbuhnya rambut terdapat gundukan vagina yang pinggir kiri dan kanannya tumbuh rambut, bak gambaran hutan kecil.. Ampun mana tahan.. Mau pecah rasanya penisku menahan tekanan akumulasi cairan di pembuluh darah penisku.

    “Nyai Aku nggak tahan lihat begini..?”
    “Maksudnya, Mas Agus sudah capai..?”
    “Enggak Nyai.. Burung saya sudah.. Nggak bisa.. Nggak bisa.. Saya nggak tahan lagi..!”
    “Lho, kok baru bilang sekarang.. Ayo naik..”, sambil berkata demikian tangan kanannya melambai, mempersilakanku menaiki perutnya..

    Seperti kucing kelaparan, aku segera mengangkangi perut Nyai, aku mau mencium pipinya, lehernya, mau melumat bibirnya. Tetapi gerakanku membungkuk terganjal burungku yang keras dan sakit waktu tertekuk. Malah ketika kupaksakan dan terus tertindih perutku, pertahanan katupnya jebol. Karena tiba-tiba.., crut.. crut.. crut.. Dari burungku tersembur, memancar air mani, yang disertai rasa nikmat. Ejakulasi!! Semburan air maniku mengenai dada Nyai, leher dan perutnya.

    Setelah menyembur, burungku sedikit kendur, aku peluk leher Nyai, aku kulum dengan berapi-api bibirnya. Rupanya Nyai merespons dengan penuh gairah juga. Aku gigit dengan lembut bibirnya, sesekali aku sedot lidahnya. Lima menit lamanya, baru aku tersadar.

    “Maaf Nyai, air mani saya tadi..”
    “Ah, nggak apa-apa, itu tandanya Mas Agus masih “jejaka ting-ting”, nanti sebentar juga bangun lagi.”, sambil berkata demikian, Nyai mencium lagi bibirku. Tentu saja aku membalasnya dengan lebih bernafsu.

    Kecuali bibirku melumat bibir Nyai, tanganku juga meraba buah dada Nyai. Memang sudah tidak gempal, tapi masih “berisi” 80 persen. Kedua tanganku masing-masing meraba, memeras-meras, memilin-milin puting Nyai. Kadang saking gemasnya cengkeraman tanganku ke buah dadanya agak keras, menyebabkan Nyai meringis menggeliat. Begitu juga bila puting Nyai aku pilin agak kuat, nyai bereaksi..

    “Enak, enak.. Tapi sakit Mas.. Jangan keras-keras.. Yang (maksudnya Sayang)..”

    Tanpa terasa saat aku menggulati tubuh Nyai, mendekami dada, perut, menekan vagina Nyai dengan penisku, terasa burungku mulai menggeliat lagi. Makin lama makin keras.

    “Nyai.. Burung saya.. Nyai mau.. Lagi..?”
    “Nah, apa khan.. saya bilang, ayo.. lagi, tapi ‘ntar.. Yang, aku bersihkan badanku dulu ya.. ya..”

    Nyai masuk ke kamar mandi dalam di ruang tidur. Keluar dari kamar rambutnya terlihat sedikit basah, sebagian terjurai di lengan. Ya.. Tuhan.. Cantik sekali dewi ini..

    Aku pun juga masuk juga ke kamar mandi, membersihkan bagian badan yang terkena air mani. Keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang bulat, terlihat burungku tegak, keras mendongak ke atas membentuk sudut 45 derajat dengan garis horizontal. Batangnya besar, warna kehitaman dengan tonjolan pembuluh darah membujur, sebagian melintang. Seperti tongkat ukiran. Ujungnya, gland penis, besar, kemerahan, membentuk topi baja yang mengkilat. Antara gland penis dan batang terlihat leher penis yang dangkal. Rasanya aku mau berkelahi dengan membawa senjata golok.

    Waktu Nyai melihat aku dan memperhatikan penisku..

    “Hei.. Gede buanget.. Hebat buanget.. Pasti nikmat buanget..” Aku menyahuti tiruan iklan itu, dengan meletakkan ibu jari tangan kananku di depan bibirku..
    “Sssstt..” Tentu saja Nyai senyum atas jawaban spontanku.

    Langsung akau naiki perut Nyai. Dengan lutut menahan badan, aku sedikit menunduk, memegang penisku. Segera kumasukkan ke liang vagina Nyai. Aku takut kalau nanti terlambat masuk ke vagina, maninya tersembur lagi keluar. Nyai maklum juga kelihatannya. Kupegang penisku, kepalanya kuhadapkan di depan vagina Nyai, lalu kudorong masuk. Bless.. Lega sekali rasanya. Kalau nanti muncrat, ada di dalam liang vagina Nyai..

    Lalu aku rebahkan tubuhku ke depan dengan bertumpu pada kedua sikuku. Bertemulah dadaku dengan buah dada Nyai, bibirku dengan bibir Nyai. Kedua tanganku memegang pipi Nyai, Nyai kucium mesra, lalu kucucuk-cucukkan bibirku pada bibirnya, eh.. menirukan burung yang bercumbu. Sesekali tanganku meremas buah dadanya, memilin putingnya, terkadang mulutku turun ke bawah, menghisap puting buah dada Nyai, bergantian kanan dan kiri

    Akan halnya penisku waktu kumasukkan ke liang vaginanya, rasanya memasuki ruang kosong, berongga. Tetapi setelah itu rasanya ada kantong yang menyelimuti. Permukaan kantong itu bergerigi melintang, pelan-pelan kantong itu “meremas “penisku. Tak ingin cepat berejakulasi maka kutarik penisku, kantong vagina itu tidak “mengejar”nya. Kumasukkan lagi seperti tadi, terasa masuk ruang kosong, sebentar liang vagina mulai meremas, kutarik lagi. Begitu beberapa kali. Terkadang penisku agak lama kutarik keluar, sampai tinggal “topi bajanya” yang ada di antara ‘labia mayora’-nya. Terus begini Nyai mencubitku..

    “Masukkan lagi Yang..”

    Gerakkan in-out ini makin cepat, “pengejaran” penis oleh sekapan kantong vagina juga makin cepat. Di samping itu di pintu masuk, bibir luar (labia mayora) dan bibir dalam (labia minora) juga ikut “mencegat” penisku. Makin cepat aku keluar-masukkan penisku, Nyai terlihat makin menikmati, demikian juga aku sendiri. Ibarat mendaki gunung hampir tiba di puncaknya. Kecepatan penisku memompa vaginanya semakin bertambah cepat, denyut nadiku semakin bertambah, nafas juga semakin cepat. Terlihat juga wajah Nyai semakin tegang menanti puncak orgasme, nafasnya terlihat juga semakin kencang. Cairan di liang vagina Nyai juga terasa semakin banyak, ibarat oli untuk melicinkan gesekan penisku. Peluhku mulai menetes, jatuh bercampur peluh Nyai yang tercium sedap dan wangi.

    Makin cepat, makin tinggi.., tiba-tiba penisku terasa disekap rongga vaginanya dengan kuat.. Kuat sekali dengan denyutan yang cepat tetapi dengan amplitudo yang rendah. Orgasme! Nyai mencapai orgasme. Di saat itu lengan Nyai memeluk leherku kuat sekali, sedang tungkainya memeluk pantatku dengan kencang.

    “Aihh..”, terdengar desah kepuasan keluar dari bibir Nyai.

    Beberapa menit kemudian lubang penisku terasa jebol, cairan menyemprot keluar entah berapa cc. Nikmat.., nikmat sekali.. Nikmat luar biasa. Orgasme Nyai terjadi lebih dulu dari ejakulasiku. Kalau saja Nyai masih bisa hamil, kata dokter anak yang lahir nanti adalah pria.

    Saya masih tetap memeluk Nyai sambil mengendurkan nafas. Pelan-pelan penisku mulai mengendur, mengkerut. Tapi rupanya Nyai merespons. Paha dan tungkainya diselonjorkan (diluruskan). Maksudnya memberi jalan agar penisku keluar.

    “Terima kasih Yang, terima kasih Mas Agus.. Mas hebat sekali..”, bisiknya.
    “Kau cantik sekali Nyai, secantik bidadari..”, balasku

    Badanku kurebahkan di samping badan Nyai, memeluk Nyai yang tidur telentang. Kami tidur dalam keadaan telanjang, hanya ditutupi selimut.

    Nikmatnya Nyai, nikmatnya wanita, nikmatnya dunia.

    bu ita nyari pejantan

    Namaku Rian, aku seorang pegawai swasta di b*****g. Baru sebulan ini aku pindah kantor, alasannya klasik, soalnya kantor baruku ini memberi gaji yang jauh lebih tinggi dari kantorku yang lama. Sebenernya sih aku agak heran dengan kantor baruku ini, soalnya waktu wawancara dulu gaji yang aku ajukan tidak ditawar sama sekali, langsung setuju ! Emang sih aku agak nyesel kenapa gak nawarin yang lebih tinggi lagi, tapi aku sadar diri, untuk posisi yang aku tempati sekarang aja, gajiku tergolong sangat tinggi.
    Hari itu hari jumat, setelah makan siang, HPku tiba-tiba berdering. Itu dari Bu Ita, manager keuangan yang dulu menyetujui gaji yang aku ajukan. Mengingat “jasanya” dia ke aku, tentu aja aku sangat menghormati dia.
    “Halo bu, selamat siang” sapa saya menjawab telpon.
    “Halo rian..” jawab dia riang sekali.
    “Ada yang saya bisa saya bantu ?” tanya saya, basa-basi sih.
    “Ah enggak cuma ngecek kamu aja. Dah makan siang ?” tanyanya ramah.
    “Oh sudah bu, baru aja” jawabku.
    “Gimana kerja disini, ada masalah ?” tanya bu ita lagi.
    “Wah enggak bu, tapi memang saya baru mulai sih, baru membiasakan diri dengan keadaan kerja disini” jawab saya singkat.
    “Gimana gajinya, dah cukup ?” tanyanya dengan suara menggoda.
    “He..he..he.. maunya sih tambah lagi bu” jawab saya sambil tertawa.
    “Hah.. segitu aja udah tinggi kan ?” balas bu ita sedikit kaget.
    “Iya bu, becanda tadi..” jawabku singkat.
    “Oh.. kirain.” jawabnya. “Eh rian nanti sore sehabis kantor kamu ada kerjaan gak ?” tanya bu ita.
    “Enggak kayaknya bu, ada apa emangnya” tanyaku sedikit heran.
    “Hmm.. ada yang ingin saya bicarakan, agak pribadi sih, makanya saya ingin bicaraiinnya sehabis kantor aja nanti” jawab bu ita.
    “OK bu, saya gak ada janji untuk sore sampe malem nanti” jawab saya.
    “OK nanti aku tunggu di kafe xxx nanti sore” kata bu ita.
    “OK bu” jawab saya.
    “Ok kalo gitu, oh iya, golongan darah kamu apa ?” tanya bu ita sebelum mengakhiri pembicaraan.
    “B” jawabku penuh kebingungan.
    “Perfect ! OK deh aku tunggu nanti sore” kata bu ita lalu menutup telponnnya.
    Sejenak aku terdiam penuh kebingungan, tapi aku kembali bekerja sebab pekerjaanku lumayan menumpuk.
    Setelah pulang kerja aku arahkan mobilku ke kafe xxx yang dijanjikan tadi. Dalam perjalanan aku diselimuti kebingan yang amat sangat. Bu Ita… Ada apa manager keuangan kantorku itu mau menemuiku, soal urusan pribadi lagi. Dan yang paling membuatku bingung adalah dia sempat menanyakan golongan darahku, untuk apa ?
    Sebagai informasi, Bu ita berumur sekitar 34-35 tahun. Masih cukup muda untuk menjadi manager keuangan, tapi memang dia berasal dari keluarga yang berteman dekat dengan pemilik perusahaanku. Ditambah lagi suaminya, pengusaha yang dulu jadi sahabat pak Faisal presdir perusahaanku sewaktu kuliah. Oh iya bu ita sudah bersuami, tapi sayang mereka belum dikaruniai anak. Tapi mungkin karena hal itu bu itu terlihat masih seperti wanita muda. Badannya tinggi semampai, ramping tanpa lemak. Kulitnya kuning langsat dengan rambut lurus sebahu. Matanya berbinar selalu bersemangat dan bibir tipisnya itu selalu menarik perhatiannku. Hanya ada satu kata yang dapat mewakili bu ita… Cantik.
    Sesampainya di kafe xxx, aku melihat bu ita melambai kearahku dari meja yang agak dipojok. Kafe itu memang agak sepi, pelanggannya biasanya eksekutif muda yang ingin bersantai setelah pulang kerja.
    “Sore bu, maaf agak terlambat” kataku sambil menyalaminya.
    “Oh gak pa-pa” kata bu ita sambil mempersilakkan aku duduk.
    Selanjutnya aku dan bu ita mengobrol basa-basi, bercerita tentang kantor, dari yang penting sampe gosip-gosipnya. He..he..he.. gak guna banget.
    Setelah beberapa lama akhirnya aku mengajukan pertanyaan. “Oh iya bu, sebenernya ada apa ya mengajak saya bertemu disini” tanyaku memulai.
    “Oh iya” jawabnya. Mendadak wajahnya sedikit pucat.
    Beberapa saat ibu ita terdiam. Kemudian mulai berkata “Begini Rian, kamu tau kan kalo aku sudah berkeluarga ?”. Aku menganguk kecil untuk menjawabnya.
    “Tahun ini adalah tahun ke 10 pernikahanku” lanjutnya. Kemudian dia mengeluarkan sebuah foto dari dalam dompetnya. “Ini foto suamiku waktu sebelum nikah, gimana mirip kamu gak ?”
    Aku mengambil foto tersebut dan mengamati sebentar. Memang sih ada banyak kemiripan antara orang di foto terebut dengan aku, tapi gantengan aku dong (– ge-er mode on ).
    “He..he..he.. kayak ngaca” jawabku sambil mengembalikan foto tersebut. Sebenernya aku makin bingung arah pembicaraan bi ita.
    “Kamu tau kan aku dan suamiku belum dikaruniai anak ?” tanyanya lagi
    “Iya…” jawabku bingung.
    “Jadi begini rian, aku dan suamiku sudah mencoba beberapa cara. Tapi belum berhasil. Sedang umurku semakin bertambah, makin sulit untuk bisa punya anak. Memang kami sudah tau masalahnya ada disuamiku dan dia sekarang dalam terapi pengobatan, tapi mungkin suamiku butuh bantuan lain….. dari kamu” kata bu ita.
    “Bantuan dari saya ? maksudnya bu ?” tanyaku yang sudah dipuncak kebingungan.
    “Mungkin kamu bisa bantu suamiku untuk membuahi aku” katanya pelan.
    “Maksudnya saya menyumbang sperma untuk bayi tabung ibu dan suami ibu ?” tanyaku tergagap.
    “Bukan, aku sudah pernah coba cara itu dan gagal. Sperma suamiku terlalu lemah. Kalau aku ulangi sekarang tentu suamiku curiga. Lagi pula sulit untuk menukar sperma suamiku dengan spermamu nanti” jawab bu ita.
    “Jadi ?” tanyaku lagi.
    “Aku pingin kamu meniduri aku, membuahi aku sampai aku hamil” jawabnya singkat.
    Aku cuma bisa ternganga terhadap permintaan bu ita yang ku anggap sangat gila itu.
    “Tenang, jangan takut ketahuan. Kamu mirip sekali dengan suamiku, apalagi golongan darah kalian sama, jadi anak yang lahir nanti akan sulit sekali diketahui siapa ayah sebenarnya.” kata bu ita meyakiniku. Akhirnya terjawab kenapa dia tanya golongan darahku tadi. Mungkin alasan bu ita begitu gampang menyetujui waktu aku wawancara dulu salah satunya adalah rencana ini…
    “Trus bagaimana kita melakukannya ?” tanyaku setelah menenangkan diri.
    “Kamu ada waktu malem ini ? Kebetulan suamiku lagi keluar kota sampai besok.”tanya bu ita.
    “Aku available.” jawabku.
    Kemudian bu ita menelpon kerumahnya, memberitahukan pembantunya dia tidak pulang malam itu sambil memberi alasan. Kemudian dia mengajakku ke hotel xxx. Setelah cek in, kami langsung masuk kamar.
    Didalam kamar, tidak ada pembicaraan yang berarti. Bu ita langsung ijin untuk mandi, setelah dia selesai, gantian aku yang mandi.
    Setelah aku keluar dari kamar mandi, aku melihat bu ita yang hanya memakai bathrobe tiduran sambil menonton tv. Aku kemudian duduk di pinggiran tempat tidur.
    “Bagaimana, kita mulai ?” tanyaku dengan perasaan gugup. Soalnya biasanya aku ML tujuannya cuma untuk senang-senang, bahkan pakai alat kontrasepsi agar pasangan MLku tidak hamil. Kalau ini malah tujuannya pengen hamil.
    “OK” jawab bu ita kemudian bergeser memberi aku tempat untuk naik ketempat tidur.
    Aku berbaring disampingnya kemudian berkata “Bu, mungkin tujuan kita supaya ibu bisa hamil, tapi apa bisa kita melakukan persetubuhan ini seperti layaknya orang lain yang mencari kepuasan juga ?”
    “Gak pa-pa sayang…” jawab bu ita. “Aku rela kok kamu tidurin. Malah sejujurnya kamu tuh bangkitin nafsuku banget. Ngingetin aku diawal-awal pernikahanku” jawab bu ita nakal.
    Aku kemudian mengecup dahi bu ita, sesuatu yang selalu aku lakukan sebelum meniduri wanita. Bu ita terseyum kecil.
    Kemudian aku mengecup bibir bu ita. Bibir tipis yang selalu menarik perhatianku itu ternyata nikmat juga. Kemudian aku mulai mencium bibirnya lagi, kali ini lebih lama dan lebih dalam. Sambil mencium bibir mu ita, tanganku mulai bergerilya. Pertama-tama aku elus rambutnya, bu ita membalas dengan sedikit meremas kepalaku. Kemudian tanganku turun untuk mengelus-elus tubuhnya, walaupun masih dari luar bathrobe.
    Masih sambil berciuman, perlahan aku buka tali bathrobenya. Setelah membuka sebagian bathrobe bagian atasnya, aku langsung mengelus payudaranya, ternya bu ita sudah tidak memakai bra. Awalnya aku hanya mengelus, tapi kemudian berubah menjadi meremas. Payudaranya masih kenyal, walaupun sudah sedikit turun, tapi sangat nikmat untuk diremas.
    Kemudian aku mulai memilin-milin putingnya. Bu ita merintih pelan, kemudian melepaskan ciuman. Aku kemudian turun sedikit untuk mulai menjilati puting bu ita. Aku muail menjelati puting yang kiri sedang payudara yang kanan aku remas dengan tangan. Kemudian berganti aku menjilati yang kanan sambil meremas payudara yang kiri. Sesekali aku gigit-gigit kecil, tapi sepertinya bu ita tidak terlalu suka, dia lebih menyukai aku menyedot kencang putingnya.
    Tangan kananku kemudian turun kebawah untuk membuka bathrobe bagian bawahnya hingga tubuhnya terlihat semua. Bathrobe hanya menyangkut di tangannya. Tanganku mulai mengelus pahanya. Perlahan aku buka sedikit pahanya untuk mengeluspaha bagian dalamnya, begitu mulus kulit bagian itu. Tanganku naik keatas menuju selangkangan, ternyata bu ita masih memakai CD. Aku tak mau langsung ke vaginanya hingga tanganku beralih ke pantatnya. Aku meremas pantat yang bulat ini dari dalam CDnya, sebab aku selipkan tanganku ke dalam celananya. Jujur aku adalah penggemar pantat dan pinggul wanita. Apalagi wanita seperti bu ita ini. Pinggulnya ramping tapi pantatnya besar membulat.
    Perlahan remasan kepantat bu ita aku alihkan ke depan. Di garis vaginanya aku merasa sudah banyak cairan yang keluar dari vaginanya. Kemudian aku mengelus vaginanya mengikuti garis vagina. Perlahan aku tusuk vaginanya dengan jari tengahku. Tubuh Bu ita tersentak, pinggulnya diangkat seperti mengantarkan vaginanya untuk melahap jariku lebih dalam. Jariku aku keluar masukkan perlahan, bu ita merintih semakin keras.
    Aku turun kebawah, ingin menjilat vaginanya. Tapi Bu Ita menahan tubuhku. “Gak usah rian, aku malu” kata Bu Ita. “Langsung masukin aja sayang, aku dah gak tahan” lanjut bu ita.
    Aku memposisikan tubuhku diatas bu ita. kemudian aku lebarkan pahanya nsehingga selangkangannya terbuka lebar. Aku arahkan penisku ke vaginanya. Perlahan aku usahpak penisku ke permukaan vaginanya, tapi bu ita memandangku dengan penuh harapan supaya aku cepat memasukkan penisku ke vaginanya.
    Perlahan aku dorong penisku untuk measuk ke vaginanya. Vaginanya masih seret, mungkin karena belum pernah melahirkan. Aku mulai mengeluar masukkan penisku dari vaginanya, sedangkan bu ita merintih keras setiap penisku menghujam vaginanya. Sesekali aku mencium bibirnya, tapi dia lebih suka merintih sambil memejamkan matanya menikmati setiap gesekan vaginanya dengan penisku. Tangan bu ita mencengkram bahuku, sepertinya dia ingin tubuhh kita bergesekan keras agar payudaranya tergesek oleh dadaku.
    “Mas terus mas, terus…” rintih bu ita. Sepertinya dia membayangkan suaminya yang menyetubuhinya. Sebenernya aku agak cemburu, tapi aku pikir-pikir lebih baik daripada dia merintih memanggil namaku, nanti dia kebiasaan bisa berabe kalau dia memanggil namaku waktu bersetubuh dengan suaminya.
    Tiba-tiba tangan bu ita mencengkram pantatku seakan membantu dorongan penisku agar lebih kuat menghujam vaginanya. Pinggulnya pun semakin aktif bergerak kekanan-kekiri sambil kadang berputar. Sungguh beruntung aku bisa menikmati tubuh molek bu ita yang sangat ahli bercinta.
    Tiba-tiba tangannya menekan keras pantatku kearah vaginanya. Sepertinya dia sudah orgasme. Tubuhnya menegang tidak bergerak. Akupun menghentikan pompaanku ke vaginanya sebab tangannya begitu keras menekan pantatku.
    Setelah tubuhnya berkurang ketegangannya aku mulai pompaanku perlahan. Cairan orgasmenya membuat vaginanya semakin licin. Memang vaginanya jadi berkurang daya cengkramnya, tapi kelicinannya memberikan sensasi yang berbeda.
    Aku mengangkat tubuhnya untuk berganti posisi. Tapi bu ita menolak sambil berkata “Rian please, kali ini gaya konvensional aja ya… aku pengen nikmatin… besok-besok ya”. Aku meletakkan tubuh bu ita lagi.
    Goyangan pinggulnya makin menggila, begerak kekiri dan kekanan, tapi aku paling suka saat berputar. Sungguh hebat goyangan bu ita. Mungkin itu goyangan terbaik dari wanita yang pernah aku tiduri.
    Tangannya kembali menekan keras pantatku, bu ita sudah sampai di orgasme keduanya. Tubuhnya sangat tegang kali ini, sampai perlu lama untuk kembali normal. Setelah berkurang ketegangannya, aku berkata “Bu apa kita sudahin dulu ? kayaknya ibu sudah lemas sekali.” kataku.
    “Gak pa-pa rian, aku pengen sperma kamu, terusin aja.” jawab bu ita.
    Aku mulai memompa lagi vaginanya dengan penisku. Kali ini vaginanya sudah benar-benar basah. Bu ita sudah mengurangi gerakannya, mungkin dia sudah terlalu lemas.
    Aku konsentrasikan pompaanku ke vaginanya hingga bu ita mulai merespon lagi. Sebenarnya aku sudah dikit lagi ejakulasi saat bu ita tiba-tiba berteriak kencang
    “Arrrhgh….. rian gila enak banget” jeri bu ita sambil menjepit tubuhku dengan kedua pahanya.
    “Adu gila rian…. aku dah 3 kali keluar kamu belum keluar juga. Ayo dong rian, aku cari pejantan bukan cari gigolo…” kata bu ita lemah.
    AKu sebenernya kasian dengan bu ita, tapi aku juga sedikit lagi ejakulasi. Aku goyang perlahan penisku. Kali ini aku benar-benar konsentrasi menggapai orgasmeku. Tak berapa lama aku merasa spermaku sudah sampai diujung penisku.
    “Bu saya dikit lagi keluar bu.” kataku sambil meniukmati sensasi luar biasa. Bu ita membantu dengan menggoyangkan pinggulnya sambil menahan pantatku agar penisku tidak lepas dari vaginanya.
    “Agkh….”, crot..crot..crot..crot empat kali spermaku ku siram derask ke liang vaginanya. Bu ita menahan pantatku kuat-kuat agar spermaku masuk kerahimnya dalam-dalam.
    “Tahan sebentar rian, supaya spermanya masuk semua” kata bu ita sambil menahan pantatku kearah selangkanyannya. Setelah beberapa menit baru bu ita melepaskan cengkramannya. Aku kemudian merebahkan tubuhku disampingnya.
    Malam itu aku menggagahi bu ita sampai 3 kali. Sama seperti yang pertama, aku tumpahkan seluruh spermaku ke liang vaginanya. Setelah itu persetubuhannku dengan bu ita jadi acara rutin. Minimal 2 kali seminggu aku menyetubuhinya. Aku bahkan dilarang bersetubuh dengan wanita lain, agar spermaku benar-benar 100% masuk ke rahimnya.
    2 bulan kemudian bu ita positif hamil, tapi sampai saat ini, saat kehamilannya memasukki bulan ke 3, aku masih rutin menyetubuhi bu ita. Sepertinya bu ita tidak bisa menolak kenikmatan digagahi olehku, dan aku tentu aja gak mau kehilangan goyangan dasyat bu ita.

    Featured Post 1

    Subscribe To RSS

    Sign up to receive latest news